Rabu, 15 Agustus 2018

Kehabisan Dana Kampung Budaya Sindangbarang Terancam Dijual

Lahan dan bangunan di Kampung Budaya Sindangbarang Desa Pasir Eurih Kecamatan Tamansari Kabupaten Bogor terancam dijual. Ketua Adat Maki Sukawijaya sekaligus pengelola kawasan tersebut mengaku kesulitan membiayai perbaikan bangunan peninggalan masyarakat adat setempat.

"Saya sudah tidak ada uang. Mumpung masih ada nilainya, lebih baik saya jual saja. Saya mintanya sembilan miliar rupiah," kata Maki saat dihubungi, Selasa, 14 Agustus 2018. Ia mengaku tidak sanggup lagi memelihara bangunan tersebut karena lebih banyak mengeluhkan uang pribadi selama 11 tahun terakhir.

Selain dari uang pribadinya, anggaran untuk operasional kegiatan dan pemeliharaan berasal dari hasil kunjungan wisatawan dan peneliti. Maki memperhitungkan total pengeluaran dalam satu tahun di sana mencapai Rp400 juta, termasuk untuk gaji karyawan.

Pihak pengelola selama ini telah melakukan perbaikan kecil pada bangunan tradisional di sana. Namun, belum pernah ada perbaikan besar dan menyeluruh sejak 2006 sampai sekarang. Maki menilai kerusakannya cukup parah pada bagian atap, lantai dan kaki-kaki bangunan.

Upaya meminta bantuan dari pemerintah daerah, provinsi maupun pusat juga telah ditempuh. "Waktu zaman Pak Aher (Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan) sebelum turun, beliau mau memberikan bantuan hampir satu miliar rupiah tapi cairnya 2019. Kemarin ada informasi dana bantuan itu kemungkinan tidak jadi," kata Maki.

Maki pun mempertanyakan kebenaran informasi tersebut dan alasannya dibatalkan. Sambil menunggu kejelasan, ia mulai menawarkan lahan dan bangunan di sana. Salah satunya melalui jejaring sosial Facebook yang ikut menandai akun Sekretaris Daerah Pemerintah Jawa Barat Iwa Karniwa.

Saat ditemui di lokasi, salah seorang pengelola di bagian umum Rohman Hidayat menunjukkan kerusakan bangunan berjumlah 23 unit di lahan seluas 8600 meter persegi. Menurut pantauan PR, kerusakan lebih banyak terjadi pada bagian atap yang terbuat dari lapisan injuk, hateup, sponge dan bilik kayu.

Kerusakan cukup parah juga dialami bagian lantai yang terbuat dari kayu. Seperti pada bangunan panggung pertunjukan musik yang disebut saung talu, lantai kayu di bagian belakang panggung jebol karena keropos. Kondisi serupa juga dialami balai riungan yang biasa digunakan untuk pertemuan dan diskusi pengunjung.

"Kerusakan ini tentunya mengganggu kunjungan wisatawan maupun penelitian dari mahasiswa atau lembaga," kata Rohman. Kondisi infrastruktur dianggap ikut menurunkan jumlah kunjungan ke Kampung Budaya Sindangbarang dalam beberapa tahun terakhir.

Rohman mengakui keterbatasan anggaran juga mengurangi kegiatan besar yang biasanya rutin diadakan empat kali setahun, menjadi hanya satu kali setahun. Satu-satunya kegiatan budaya yang digelar saat ini adalah serentaun atau upacara panen padi khas adat Sunda.

Penyelenggaraannya acara tersebut diakui membutuhkan dana yang besar hingga sekitar Rp100 juta. Rohman mengakui bantuan dari Pemerintah Kabupaten Bogor hanya diberikan untuk penyelenggaraan acara tersebut. Itu pun tidak sampai 10 persen dari kebutuhan anggaran.

Pelatihan seni budaya
Sejak dulu, kawasan tersebut diakui menjadi tempat pelatihan seni budaya tradisional selain menjadi destinasi pariwisata budaya. Rohman mengatakan kegiatan rutinnya antara lain pelatihan menari jaipong, musik angklung hingga silat Cimande. Hingga saat ini, ia menyebutkan jumlah peserta didiknya mencapai 100 anak.

"Setiap Sabtu-Minggu atau sesuai jadwal kunjungan wisatawan, anak-anak tampil untuk menghibur para pengunjung," kata Rohman. Ia pun berharap tempat tersebut tidak jadi dijual sehingga kegiatan budaya masih bisa dilakukan di sana.

Rencana penjualan Kampung Budaya Sindangbarang itu pun disesalkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor Rahmat Surjana. Ia mengakui, kemampuan pemerintah daerah tidak bisa memenuhi seluruh permintaan masyarakat.

"Ada beberapa tempat yang serupa dengan Kampung Budaya Sindangbarang di Kabupaten Bogor ini. Tapi kami kelompokan mereka sebagai sanggar seni saja," kata Rahmat. Ia menyebutkan nilai bantuan untuk penyelenggaraan serentaun di sana mencapai sembilan juta rupiah pada tahun ini.

Rahmat mengaku sangat mengapresiasi komitmen pengelola kawasan tersebut dalam melestarikan budaya tradisional nenek moyang. Namun menurutnya, bangunan tradisional di Kampung Budaya Sindangbarang bukan peninggalan asli masyarakat setempat. Sehingga, keberadaannya pun tidak digolongkan pada cagar buday

Sumber: http://goo.gl/w76FAi

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar