Selasa, 05 September 2017

Kalah dari Online, Bagaimana Nasib Penjualan Hewan Kurban di Jalanan?

Penjualan hewan kurban dengan cara-cara konvensional seperti di pinggir jalan semakin sepi peminat. Tren yang sedang berkembang saat ini adalah dengan membeli lewat online.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Rochadi Tawaf mengungkapkan, penjualan hewan kurban dengan sistem online atau daring dianggap lebih transparan dibandingkan cara konvensional yang masih menggunakan sistem tafsir.

"Kalau di pinggir jalan pakai sistem tafsir. Berat sekian harga sekian, tetapi kita enggak tahu beratnya benar atau tidak," ungkap Rochadi.

Berbeda dengan cara online, sistem online lebih memberikan penjelasan detail kepada konsumen. Tidak hanya itu, jelajah penjualan hewan kurban dengan sistem online juga lebih luas sehingga bisa memberikan gambaran data harga hewan kurban setiap provinsi.

"Kalau online kita sekarang sudah mulai ke bisnis online. Orang percaya kalau bisnis online ini transparansinya tinggi dan terpercaya. Jadi kalau misalnya dia ingin berkurban di NTT, kan di NTT ternak lebih murah jadi dia bisa membeli ternak lebih murah. Mereka sudah bisa meyakinkan konsumen. Jadi transparan, praktis, bisa dipercaya dan tepat waktu," sebutnya.

Lantas dengan perkembangan pesat penjualan hewan kurban dengan sistem online, bagaimana dengan nasib penjual di pinggir jalan? Rochadi menyebut secara bertahap konsumen akan mulai meninggalkan cara-cara konvensional dan lebih memilih untuk membeli secara online.

"Ada kecenderungan fenomena ke sana dan tren ke depan pasar demikian. Sistem online semua komoditi sudah dilakukan. Misalnya kita ingin sapi akikah, dibungkusin per 1 kg langsung dikirim ke rumah. Mereka sudah sangat transparan," sebutnya.

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar