Sabtu, 19 Agustus 2017

Peluang Bisnis Cuci Sepatu yang Ciamik

Memulai bisnis itu nggak perlu ribet. Dari hal yang sederhana, seperti mencuci sepatu, ternyata bisa membuahkan bisnis yang ciamik. Lihat saja apa yang dilakukan Yenda Handriaman dan Dian Puspitasari. Kerap kesulitan mencari tempat pencucian sepatu, dua sekawan ini lantas membesut jasa binatu sepatu. “Kalau mau mencuci sepatu, cukup sulit. Ada memang di beberapa mal, namun harganya cukup mahal,” ungkap Yenda. Bagi mereka, sepatu juga perlu perawatan. Jadi, tak hanya pakaian yang kudu kinclong. Alas kaki pun harus mendapat perawatan yang baik.

Apalagi, Yenda dan Dian penggemar sepatu. Mereka punya koleksi beragam sepatu. Menurut Yenda, kolektor sepatu tidak sembarangan membersihkan sepatu. Kalaupun diserahkan kepada jasa binatu sepatu, mereka harus yakin sepatunya akan dirawat dan dibersihkan dengan benar. Yenda dan Dian juga pernah merentas karier di perusahaan sepatu asal Amerika Serikat. 

Tak ayal, pengetahuan tentang sepatu dan hobi mengoleksi sepatu menjadi bekal menggelindingkan Shoebible. Nama ini dipilih karena mereka ingin usaha mereka menjadi kitab tentang sepatu. “Targetnya, semua ada tentang sepatu, dari mau nyuci, produk pembersih, betulin sepatu, sampai pewarnaan sepatu,” tutur Yenda.

Dengan modal Rp 70 juta, mereka membesut Shoebible di Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta, Oktober 2014. Modal itu banyak dialoksikan untuk membeli sejumlah mesin. Shoebible menerima jasa cuci bersih semua jenis sepatu. Namun, tarif pencucian dibedakan menurut bahan sepatu. Untuk sepatu sneaker dan sepatu bahan kanvas, tarif cuci dibanderol mulai dari Rp 60.000 per pasang. Sementara, untuk pencucian sepatu dari bahan suede dan kulit dipatok Rp 147.000 per pasang.

Awalnya, Shoebible menyasar segmen kawula muda. Ternyata, setelah peluncuran, yang lebih banyak cuci sepatu atau beli produk justru ibu-ibu dan bapak-bapak. Rupanya, merekalah yang sehari-harinya mengalami kesulitan dalam hal mencuci sepatu. 

“Sekarang targetnya semua orang, karena ternyata semua orang butuh jasa ini,” ujar Yenda. Tak mengherankan, dalam waktu tiga bulan, bisnis mereka sudah mencapai titik impas. Dalam tempo setahun, Shoebible memiliki lebih dari delapan gerai yang tersebar di Jakarta, Tangerang, Padang dan Yogyakarta. Tiga gerai milik sendiri dan sisanya kemitraan. “Tahun ini kami akan buka di Puri Indah Mall,” kata pria berusia 33 tahun itu.

Kehadiran Shoebible direspons antusias oleh Sigi Wimala. Model dan aktris ini menjadi pelanggan Shoebible. “Sudah sering banget, karena sepatuku banyak banget dan selalu dipakai outdoor, maka harus dibersihin,” katanya. Di matanya, Shoebible adalah solusi yang muncul pada saat yang tepat ketika kesadaran olah raga masyarakat lagi tinggi dan aktivitas luar ruang semakin ramai. 

Menurutnya, sepatu olah raga bukan investasi yang murah. Terutama, saat orang mulai serius menekuni olah raga, kebutuhan sepatu yang spesifik akan berbeda. Dan, tentunya semua orang ingin merawat sepatunya agar lebih tahan lama, tetapi perawatannya tidak boleh sembarangan. “Hadirnya Shoebible menjawab permasalahan tersebut. Kini terlihat cabang dan produknya sudah tersebar di mana-mana, ini menunjukkan kesuksesannya. Mulai dari branding, komunikasi hingga service-nya, harus aku akui, mereka sangat bagus,” ujar Sigi memuji.

Meski jasa binatu sepatu belum menjamur, Yenda melakukan diferensiasi. “Yang membedakan Shoebible dengan pemain lain adalah produk pembersihnya dibuat sendiri,” ungkap Yenda. Produk pembersih yang diberi nama Swasher itu terbuat dari bahan minyak bunga matahari dan minyak kelapa. Produk sabunnya ia lempar ke vendor untuk pembuatannya. Hanya saja, mereka punya spesifikasi kandungannya. 

Agar penetrasi pasar meluas, produk sabunnya dijual secara online dan dijual juga di toko-toko tertentu. Dipatok dari harga Rp 59 ribu untuk 60 ml sampai Rp 198 ribu untuk 250 ml, Swasher banyak diminati konsumen luar kota.

Mereka juga menjual alat pembersihnya, seperti sikat yang diimpor dari China. Harga sikat dibanderol mulai Rp 60 ribuan hingga Rp 90 ribuan. Sikatnya ada tiga jenis: sikat untuk semua jenis sepatu, sikat khusus bagian bawah sepatu, dan sikat untuk sepatu kulit yang bahannya dari bulu kuda. “Sehingga ada pilihan, bisa mencuci di sini ataupun mencuci di rumah,” kata Yenda.

Menurut Yenda, membersihkan sepatu, pada dasarnya sama, yakni dengan disikat. “Beda cara saja,” ujarnya. Di Shoebible, ada mesin pengering dan menggunakan mesin steam. Ia mematok maksimum lima hari kerja untuk pencucian sepatu. “Kalau sudah selesai lebih cepat, kami pasti langsung menghubungi konsumen kami,” katanya. Selain itu, ada pilihan untuk pencucian ekpres dengan waktu maksimum dua hari kerja. Omsetnya, 300-400 pasang sepatu per bulan di satu cabang. Atau, setiap gerai sekitar Rp 15 juta. Omset gerai di Pasar Santa Rp 30-40 juta.

Yenda memilih mempekerjakan anak-anak kampus. “Biasanya mereka lebih mengerti mengenai sepatu,” katanya. Anak-anak muda yang datang ke Shoebible pun, menurutnya, merasa lebih nyaman karena dilayani petugas yang tak hanya paham tentang sepatu, tetapi gayanya juga mirip mereka.

Selama ini, strategi pemasarannya dengan memanfaatkan media sosial dan jaringan pertemanan. “Mereka mencoba cuci sepatu di Shoebible dan dengan suka rela mereka posting di medsos, jadi mulailah kami dikenal orang,” kata Yenda. Pihaknya juga kerap posting video cara-cara mencuci sepatu untuk edukasi kepada masyarakat awam. “Malahan, banyak sekali yang menanyakan training bagi yang mau buka laundry sepatu tetapi belum bisa di-handle,” imbuhnya.

Diakui Yenda, meski pasar jasa binatu sepatu memiliki prospek bagus dan pasarnya terbuka, bukan berarti tak ada tantangan. Menurutnya, setiap konsumen ekspektasinya berbeda. Kebanyakan berpikir sepatunya akan menjadi seperti baru setelah dicuci. “Padahal tidak, semuanya tergantung pada sepatunya,” ungkapnya. Adapun dari sisi kompetisi bisnis, memang follower mulai bermunculan. “Yang ngikutin banyak, tetapi menurut saya tidak masalah, berarti kami melakukan sesuatu yang benar. Dengan adanya mereka, orang jadi semakin banyak yang tahu bahwa sekarang ada jasa cuci sepatu.”

Ke depan, ia punya target meningkatkan pelayanan, seperti akan ada penambahan coloring, misalnya sepatu kanvas yang akan diwarnai. Juga, ada jasa perbaikan sepatu karena ternyata pasarnya ada. Sistem waralaba yang selama ini diterapkan akan diubah karena mereka ingin ada kepemilikan saham. “Supaya ada kontrol,” kata Yenda.

https://goo.gl/XoE3Q9
Sumber: http://goo.gl/XoE3Q9

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar