Sabtu, 19 Agustus 2017

Bisnis Lauw Ping Nio Alias Nyonyar Meneer Berawal Dari Perabotan Dapur

Dalam keadaan tertekan, banyak orang cenderung menyerah dan memilih jalan lain. Namun bagi beberapa orang, keadaan tertekan malah dapat memberikan mereka motivasi untuk menciptakan inovasi dan kreativitas. 

Salah satu orang yang mampu membalikkan keadaan tersebut adalah Lauw Ping Nio atau yang dikenal dengan nama Nyonya Meneer.

Pengalaman hidup Nyonya Meneer merupakan contoh paling tepat, bagaimana keterbatasan dan keprihatinan dapat menjadi batu pijakan untuk mengambangkan bisnis. 

Kisahnya bermula pada masa pendudukan Belanda di awal 1900-an. Nyonya Meneer merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Dia menikah dengan pria asal Surabaya dan kemudian pindah ke Semarang.

Saat itu, sang suami jatuh sakit. Berbekal sedikit pengetahuan tentang jamu yang dia dapat dari ibunya, Nyonya Meneer meracik aneka tumbuhan dan rempah untuk diminum suaminya. Ternyata ramuan itu mujarab, padahal berbagai pengobatan tidak mampu memulihkan kondisi suaminya. 

Melansir situs njonjameneer, kabar kesembuhan suami Nyonya Meneer tersebut terdengar oleh para kerabat dekat di Semarang. Mereka pun kagum dengan tangan dinginnya Nyonya Meneer mengolah jamu. Nyonya Meneer yang ringan tangan dan sangat peduli kepada orang-orang di sekitarnya dengan senang hati meracik untuk mereka yang demam, sakit kepala, masuk angin, dan terserang berbagai penyakit ringan lainnya.

Kabar soal ramuan tradisional miliknya pun terus menyebar, dan membuat semakin banyak orang ingin merasakan khasiat jamu racikan Nyonya Meneer. Sejalan dengan itu, semakin banyak pula permintaan untuk mengantarkan sendiri jamu yang belakangan mulai dikemasnya itu. 

Namun, kesibukan Nyonya Meneer melayani suaminya dan membuat makanan di dapur, tidak memungkinkan untuk memenuhi permintaan itu. Akhirnya dengan berat hati, dia pun tidak mampu memenuhi semua pesanan yang datang kepadanya.

Dia pun meminta maaf. Sebagai gantinya, dia mencantumkan fotonya pada kemasan jamu buatannya, dengan maksud agar orang-orang menjadi akrab dan lebih mengenal sosoknya. Tak ada yang keberatan, tak ada pula yang menduga bahwa di kemudian hari, jamu dengan potret seorang wanita ini melegenda. 

Berbekal perabotan dapur biasa, usaha keluarga ini terus memperluas penjualan ke kota-kota sekitar. Kemudian pada periode 1919, atas dorongan keluarga berdirilah Jamu Cap Potret Nyonya Meneer yang kemudian menjadi cikal bakal salah satu industri jamu terbesar di Indonesia.

Selain mendirikan pabrik, Ny Meneer juga membuka toko di Jalan Pedamaran 92, Semarang. Perusahaan keluarga ini terus berkembang dengan bantuan anak-anaknya yang mulai besar. 

Pada 1940, melalui bantuan putrinya, Nonnie, yang hijrah ke Jakarta, berdirilah cabang toko Nyonya Meneer di Jalan Juanda, Pasar Baru, Jakarta.

Di tangan ibu dan anak, Nyonya Meneer dan Hans Ramana perusahaan berkembang pesat. Nyonya Meneer meninggal dunia pada 1978. Generasi kedua yaitu anaknya, Hans Ramana, yang juga mengelola bisnis bersama ibunya, meninggal terlebih dahulu pada 1976. 

Perusahaan jamu Nyonya Meneer pada 2006 berhasil memperluas pasarnya hingga ke Taiwan sebagai bagian ekspansi perusahaan ke pasar luar negeri setelah sebelumnya berhasil memasuki Malaysia, Brunei, Australia, Belanda, dan Amerika Serikat.

https://goo.gl/17oJW3

Sumber: http://goo.gl/17oJW3

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar