Rabu, 19 April 2017

Berawal Dari 2 Pasang Sepatu Kini Sudah Mempunyai Toko Sepatu

USAHA yang dirintisnya sejak di bangku kuliah 2012 lalu, kini membuahkan hasil. Bermodalkan dua pasang sepatu yang dijualnya secara online, kini Muhyiddin Isya Siregar, 26, sudah memiliki toko sepatu sendiri. Omzetnya pun mencapai puluhan juta per bulan. 

Muhyiddin Isya Siregar yang akrab disapa Kwi itu pun membuka toko sepatu bernama Costagrunge di Jalan Sekata, Medan. Berbagai merek sepatu model skets terkenal dijualnya seperti New Balance, Adidas, Nike, Converse, Reebok dan Diadora. Harganya pun bervariasi mulai dari Rp300.000 sampai jutaan rupiah setiap pasang sepatunya.

“Modal awal saya cuma jual dua pasang sepatu lewat media sosial. Keuntungan jual dua pasang sepatu itu saya putar lagi untuk menambah modal untuk menjual sepatu lebih banyak lagi. Saya menjual sepatu dengan merek terkenal, karena itu banyak disukai anak muda sekarang,” ungkapnya. 

Sembari kuliah, Kwi memasarkan sepatu kepada teman-teman kuliahnya Hasilnya, tidak sedikit teman kuliahnya meminati sepatu tersebut. Maklum saja, Kwi menjual sepatu berbagai merek terkenal yang original, bukan palsu atau KW. 

“Kebetulan saya punya relasi dengan distributornya langsung. Makanya, saya bisa jual sepatunya dengan harga miring atau lebih murah dengan harga toko-toko di mal,” ungkapnya. 

Kwi mengaku dalam satu hari, sedikitnya 5 pasang sepatu laku terjual dan dalam satu Minggu, Kwi menargetkan bisa menjual 25 pasang sepatu. “Alhamdulillah, target itu selalu tercapai dan bahkan dalam seminggu bisa laku 30 pasang sepatu,” ujar alumni Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STIK) Mikroskil 2014, jurusan Teknik Informasi (TI) itu. 

Maklum saja, selain memasarkan sepatunya lewat toko yang baru dibukanya setahun lalu itu, Kwi juga memasarkan sepatunya lewat media sosial, melalui Instagram @costagrunge. Tingginya angka penjualan sepatu, membuatnya tidak bisa bekerja sendiri. Kwi pun mempekerjakan dua orang karyawan untuk membantunya berjualan. 

“Sekarang, saya juga bisa menggaji orang. Karena memang saya tidak bisa mengerjakannya sendiri. Jadi harus pakai orang juga untuk bantu jualan, baik di toko maupun lewat online,” ungkapnya. 

Melihat besarnya pangsa pasar sepatu tersebut, Kwi pun berencana membuka cabang toko baru di kawasan yang lebih strategis lagi. Maklum saja, toko sepatunya sekarang ini berada di daerah yang kurang strategis. “Kalau saya buka toko di pinggir jalan besar, banyak orang tahu dan tentu lebih banyak lagi konsumennya,” pungkasnya.

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar