Senin, 20 Maret 2017

Usaha Membuat Genteng Menjadi Mata Pencarian Warga Sekampung

Di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terdapat sebuah kampung yang cukup unik. Kampung Genteng (genting) namanya. Dinamakan Kampung Genteng karena hampir seluruh warga yang tinggal di sana berprofesi sebagai pembuat genting rumah.

Tak perlu khawatir mengenai kualitas produknya, sebab pembuatan genting di sini masih menggunakan cara tradisional. Bahkan, sejumlah produsen berani memberikan garansi jika genting yang diproduksi mengecewakan.

Dusun Sambeng, Desa Sambirejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, dijuluki sebagai Kampung Genteng. Puluhan ribu bahkan ratusan ribu genting setiap harinya diproduksi dari tempat ini.

Wajar saja, profesi perajin genting di sini merupakan pekerjaan turun-temurun sejak dulu. Sehingga, pantas jika hampir seluruh warga di dusun ini berprofesi sebagai pembuat genting.

Para perajin di sana tidak pernah merasa khawatir dengan ketersediaan tanah lempung atau tanah liat, sebab stok yang ada masih sangat cukup serta berkualitas bagus.

Keunggulan lain genting di Kampung Genteng adalah proses pembuatannya. Warga masih menggunakan cara tradisional untuk memproduksi genting.

Tanah liat yang sudah ada kemudian dibentuk menggunakan alat cetak sederhana. Lalu dijemur di bawah terik matahari selama beberapa hari dan akhirnya dibakar.

Setiap harinya puluhan ribu, bahkan ratusan ribu genting, selalu diproduksi di desa ini. Satu pekerja mampu menghasilkan 500 genting dalam sehari.

Salah seorang pemilik usaha kerajinan genting, Paijo Siswo Pranoto, mengatakan produksnya tak hanya dijual di wilayah Yogyakarta. Gentingnya juga sudah dipasarkan ke sejumlah kota besar Indonesia, mulai Jawa Tengah hingga DKI Jakarta.

Meski begitu, memasuki musim hujan kali ini, pihaknya mengeluhkan proses penjemuran yang ada menjadi lebih lama. Jika pada musim kemarau proses penjemuran hanya dilakukan selama tiga hari, akibat cuaca yang tidak menentu, bisa dilakukan selama lebih dari satu pekan.

Satu genting dijual dengan harga Rp1.200 hingga Rp1.400. Paijo menyatakan tengah mempertimbangkan akan menaikkan harganya, mengingat proses penjemuran yang lebih membutuhkan waktu dan tenaga.

Sumber: http://goo.gl/TNwfTs


Reactions:

0 comments:

Posting Komentar