Selasa, 21 Maret 2017

Kain Batik Api ini bisa Menjadi Pundi-pundi Rupiah

Jika biasanya proses membatik dilakukan dengan mengoleskan cairan lilin atau malam panas pada kain menggunakan canthing atau cap di Bantul Yogyakarta seorang pemuda berkreasi dengan membuat batik unik yang dalam proses pengerjaannya menggunakan nyala api.

Lugiyantoro, pria berusia 28 tahun warga Bantul, Yogyakarta ini berkreasi dan membuat inovasi baru dalam pembuatan kain batik. Proses pembuatan batik yang diberi nama Batik Api sangat berbeda dengan proses membatik yang selama ini sering dilakukan oleh pengrajin batik.

Jika biasanya pengrajin batik mengerjakan pembuatan kain batik dengan menggunakan canthing untuk mengoleskan lilin atau malam cair pada kain. Namun pria ini menggunakan api dalam proses pewarnaan pada batik buatannya. Bahan yang digunakan untuk membatik juga berbeda dengan batik pada umumnya yang menggunakan malam atau lilin, yakni menggunakan adonan tepung dan formalin yang ditambahkan sedikit air.

Untuk membatik di atas kain atau t-shirt, Lugiyantoro menyiapkan motif batik yang sudah dibuatnya terlebih dahulu pada kertas karton yang dilubangi sesuai bentuk motif batik yang diinginkan. Setelah itu, kertas karton kemudian diletakkan di atas kain atau tshirt yang akan dibatik, dan mulai mengoleskan adonan tepung dan formalin di atas kain menurut pola dan motif yang sudah tercetak dalam kertas karton.

Sebelum menggunakan api untuk memberi efek warna pada kain, kain yang sudah berisi gambar motif batik ini di angin anginkan sejenak agar adonan tepung dan formalin yang dilukis pada kain menjadi kering. Setelah adonan yang dibentuk motif batik tadi sudah mengering, barulah pria ini menggunakan api sebagai langkah terakhir pembuatan batik yang dinamakannya batik api.

Lugiyantoro mengaku membutuhkan waktu 3 tahun lebih untuk menciptakan batik api yang menjadi ciri dari hasil karya seni batik yang diciptakannya. Untuk membakar motif batik yang terbuat dari adonan tepung dan formalin, Lugiyantoro membuat alat pembakar yang dibuatnya dari botol bekas, kemudian diisi minyak tanah dan diberi sumbu di atasnya.

Batik api yang dibuat oleh Lugiyantoro ini biasanya dibuat pada kain sebagai bahan pembuat baju atau t-shirt berwarna putih. Karena proses pembuatan batik api cukup rumit dan membutuhkan waktu yang cukup lama, karena proses pembakaran harus dilakukan dengan hati-hati agar api tidak sampai membakar kain maka harga kain batik api juga dijual di atas kain batik umumnya. Dalam proses pembakaran ini Lugiyantoro juga harus memperhatikan arah angin sehingga api yang digunakan tidak berubah arah dan membakar bagian kain yang seharusnya tidak boleh kena api.

Karena proses pembuatannya yang cukup panjang dan rumit, Lugiyantoro menjual t-shirt batik api dan kain batik api berukuran 1,2 meter dengan harga antara Rp200 ribu hingga Rp500 ribu lebih tinggi di atas harga kain batik tulis biasa.

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar