Senin, 27 Maret 2017

Bisnis dari Akar dan Tanggul Hingga Ratusan Juta

Akar dan tunggul ternyata tidak selamanya hanya menjadi humus, dengan sedikit sentuhan seni, justru bisa menghasilkan karya yang luar biasa. Seperti seorang perajin di Lampung yang bernama Mulyono. Dia yang berhasil mengubah tunggul pohon dan limbah belantara menjadi produk bernilai tinggi.

Beragam karya monumental banyak tercipta mulai dari relief, meja dan kursi limbah belantara serta berbagai macam bentuk macam bentuk karya seni lainya. Tumpukan akar-akar pohon dan limbah belantara akan terlihat menghampar di galeri rumah kayu milik Mulyono, yang terletak di jalan Cendana, Kelurahan Tanjung Senang, Bandar Lampung. Usaha ini, mulai dirintis oleh Mulyono sejak tahun 1991 silam. Dengan melihat sumber daya yang melimpah, warga asal Solo Jawa Tengah ini mentransformasi akar-akar pohon dan limbah belantara ini menjadi karya bernilai tinggi.

Memang sepintas, akar-akar pohon dan limbah belantara yang berasal dari kawasan hutan di Provinsi Lampung ini terlihat laksana rongsokan, namun jangan salah, dari akar-akar pohon dan limbah belantara inilah karya-karya monumental banyak tercipta.

“Untuk menghasilkan karya terbaik, akar-akaran pohon dan limbah belantara harus diproses sedemikan rupa. Untuk proses awal, limbah pohon ini dibersihkan dan dikupas secara rapih dengan menggunakan sebuah mesin dengan mengikuti alur dan bentur serat pohon. Setelah itu, tunggul pohon tersebut dipoles hingga serat kayu menjadi lebih nampak nyata dipermukakan,”ujar Mulyono.

Hasil karya seni dari tunggl pohon limbah belantara terlihat menakjubkan. Beragam model cukup banyak tercipta misalnya untuk stand sebuah meja dan kursi. Serat alamiah yang menjadi ciri khas ini menjadi lebih kelihatan nyata. Hasilnya pun cukup fantastis. Tonjolan yang menghiasinya menjadi lebih artistik dan serat-seratnya menjadi lebih kelihatan dan nyata.

Karya-karya yang menghampar di galeri ruma kayu ini dijual dengan harga bergam mulai dari Rp5 juta hingga Rp40 juta. Dari seluruh karya termahal yang pernah ia hasilkan adalah relief dengan harga jual mencapai Rp40 juta hingga ratusan juta rupiah per buah, sedangakan yang paling murah adalah ukiran meja dengan kisaran harga Rp3 juta.

Selain membuat beberapa karya seperti meja dan kursi, kini Mulyono sednagn mengerjakat salah satu karya seni yang hingga saat ini masih dalam proses pengerjaan. Karya seni tersebut yaitu membuat patung naga raksasa dari tunggul pohon yang berusia 200 tahunan lebih. Sebelum tumbang setahun yang lalu di Kawasan Taman Dwipangga Bandar Lampung. Pohon ini diketahui telah berada sejak letusan Gunung Krakatau pada 1883 silam.

Di tangan Mulyono, tanggul kayu bersejarah di Provinsi Lampung itu dibentuk dan diukir menjadi patung naga raksasa. Pengerjaan patung naga sendiri mulai dilakukan Mulyono dan salah satu rekan perajin lainnya sejak sembilan bulan lalu dan hingga kini masih dalam proses pengerjaan.

“Dalam pengerjaannya, dibutuhkan ketelitian dalam mengukir tunggul dengan seni pahat. Kita juga harus menggunakan mesin pemotong kayu untuk membentuk tunggul pohon raksasa ini menjadi patung naga agar memiliki bentuk yang sempurna,” ujar Mulyono

Nantinya, Patung raksasa ini diklaim menjadi patung raksasa terbesar di Indonesia yang terbuat dari kayu. Patung ini memiliki diameter 5 meter, tinggi 6 meter dan berat sekitar 2 ton.

Meskipun sudah menghasilkan hasil-hasil ukiran yang luar biasa, sayang usaha Mulyono tak kunjung mendapat dukungan pemerintah. Selama ini Mulyono menjalankan usahanya hasil dari usahanya sendiri.

Kini Mulyono telah menikmati hasilnya. Dalam Sebulan ia mampu meraup omset hingga ratusan juta rupiah. Mulyono tengah mencoba untuk menembus pasar global dengan satu harapan karya anak bangsa bisa lebih dikenal dimata dunia.

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar