Rabu, 01 Februari 2017

Transportasi Online ini Semakin Booming di Masyarakat

Sejak kehadiran ojek dan taksi online seprti Go-jek, GrabBike, Uber dan GrabCar, lanskap bisnis angkutan berubah total.

Orang tak perlu menelepon atau mencegat di jalan untuk mendapatkan angkutan. Cukup unduh aplikasi, klik, dan pesan.

Angkutan yang tak perlu izin bisnis angkutan, karena hanya memakai kendaraan pribadi biasa akan datang menjemput. Enak, bukan?

Macetnya jalanan Kota Hujan menyebabkan Elok Lorensa stres. Tak mau buang waktu, karyawan swasta ini pilih naik ojek.

Baginya, ojek adalah alternatif transportasi yang cukup ideal meski pengalaman pertamanya naik ojek jadi mimpi buruknya.

“Gue diminta bayar Rp35 ribu dari Warung Jambu ke Stasiun Bogor,” ujarnya.

Belum lagi jika apes dapat tukang ojek yang mengemudikan motor ugal-ugalan. Salip kanan, salip kiri. Namun apa boleh buat, ia terkadang tetap butuh ojek.

Pengalaman tidak menyenangkan itu terjadi satu tahun lalu.  Elok berujar, kini kegalauannya berakhir ketika ia menggunakan aplikasi Go-jek dan Grab. Kini transportasi berbasis aplikasi tersebut menjadi andalannya.

Ketagihan Elok memang beralasan. Dengan Go-jek, ia tidak perlu repot menawar ongkos. Karena sistem tarifnya kurang lebih seperti taksi, yaitu berdasarkan jarak tempuh.

“Misalnya dari rumah gue di daerah Ciomas ke Botani, itu lebih murah dibanding naik taksi atau ojek konvensional,” kata Elok yang membayar Rp19 ribu.

Bukan cuma memesan ojek yang lagi ramai. Warga Kota Hujan juga banyak memanggil mobil sewaan melalui aplikasi.  Kiki Farida (30, misalnya.

Ia sering menggunakan GrabCar untuk pulang setelah bekerja sampai larut malam di kantor.

Kiki mengaku tidak khawatir dengan keamanan jasa transportasi aplikasi ini, karena merasa posisinya bisa terlacak operator pada setiap titik waktu dan tempat melalui global positioning system (GPS).

Belum lagi fasilitasnya lengkap dengan harga yang masih bisa terjangkau kantong.

“Kalau lagi keluar ramean seneng pake GrabCar.  Karena harganya dikira-kira, jadi estimasi gitu. Karena ada yang supirin juga jadi tinggal duduk manis. Mobilnya juga lebih wangi dan berasa mobil pribadi enggak berasa naik angkutan umum,” bebernya.

Selain bisa terlacak di GPS, supirnya yang rata – rata ramah juga menjadikan poin tambahan untuk transportasi online.

Itu ditambah setiap pemesanan, selalu terlihat wajah pengemudi yang akan mengantarkan penumpang ke tujuan. Dengan itu, tingkat kepercayaan penumpang semakin meningkat.

“Saya merasa lebih aman, saya bisa tahu mobil apa, wajah supirnya seperti apa dan saya bisa save nyebarin ke keluarga kalau saya lagi naik mobil ini buat jaga – jaga saja,” kata wanita yang sering berpergian dari Jakarta – Depok ini.

Sumber: http://goo.gl/h1txL0

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar