Jumat, 10 Februari 2017

Menyulap Sampah Rumah Tangga Menjadi Barang yang Bernilai Jual, Kini Herianti Go Internasional

Dengan kreativitas tinggi, komunitas ini berhasil menyulap sampah rumah tangga yang dianggap remeh, menjadi berbagai barang bernilai jual yang laris manis. Permintaan pun datang bukan hanya dari pasar lokal, juga mancanegara.

Ya, siapa sangka kemasan bekas produk detergen atau pelembut pakaian yang dianggap sampah, di tangan komunitas Trashion justru diolah menjadi barang bernilai jual yang pemasarannya bahkan telah merambah penjuru dunia. Adalah Herianti Porsisimarmata, seorang ibu rumah tangga, sang penggagas komunitas Trashion, yang mulai berkutat dengan sampah sejak 2007.

Diawali dengan keikutsertaan warga RW di lingkungannya dalam program Green & Clean yang diselenggarakan perusahaan multinasional produsen barang rumah tangga pada tahun tersebut. Program ini bertujuan melakukan perubahan lingkungan lewat pemilahan sampah. Terkumpullah semua jenis sampah kering, namun hanya sampah jenis kemasan sachet atau pouch yang tidak laku dijual. Akhirnya sampah itu pun menumpuk.

“Saya lalu muter otak agar sampah ini bisa berguna. Akhirnya saya inisiatif mengubah kemasan tersebut menjadi barang seperti tas. Awalnya, desainnya memang kurang bagus,” kenang wanita yang akrab disapa Yanti ini. Pun begitu, produk yang dihasilkannya tetap menuai sambutan positif.

Yanti makin semangat untuk memberdayakan para ibu di sekitar rumahnya yang bisa menjahit agar perekonomian mereka turut terbantu. Perusahaan multinasional yang mencanangkan program itu pada awalnya juga mulai melirik hasil produk Trashion, sekaligus memberikan pelatihan kepada mereka mengenai pengolahan limbah plastik menjadi berbagai kerajinan.

“Tapi dari situ saya kurang puas. Saya coba autodidak ngutak-atik kemasan plastik itu agar desainnya jadi lebih bagus,” kata Yanti saat ditemui di kediamannya di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kreativitas Yanti akhirnya membuahkan hasil, tak kurang 80 jenis produk olahan dari limbah plastik ini telah dipasarkan ke berbagai daerah, bahkan diekspor ke Singapura, Filipina, Inggris, dan Australia.

Mulai dari dompet koin, tempat pensil, tempat tisu, payung, payung taman, tas laptop, tas, hingga koper beroda. Yanti bahkan membuat model anyaman yang belum pernah ditemui sebelumnya, untuk kerajinan tas yang dibuatnya. Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai Rp25.000 hingga ratusan ribu.

Permintaan akan kerajinan ini datang dari berbagai kalangan, baik perorangan maupun perusahaan. “Biasanya pembeli datang ke workshop di Jalan Masjid Alfalah Pasar Minggu ataupun lewat online ,” kata Yanti. Acap kali hasil kerajinan ini juga ditawarkan lewat bazar. Biasanya Trashion mengikuti bazar yang diadakan kedutaan besar di Jakarta.

“Makanya banyak juga orang asing yang datang ke workshop , biasanya buat oleh-oleh,” imbuh Yanti. Dari sekian banyak produk yang dijajakan, payung dan tas model tote bag paling best seller . Tas tote dengan jahitan biasa dibanderol Rp110.000, sementara model anyaman Rp150.000.

Sayang, tanggapan masyarakat tak melulu positif. Mereka beranggapan untuk sekelas limbah, harga yang dipatok tidak sesuai. Padahal, di balik itu ada ide dan kreativitas dibalut kerumitan yang tinggi sehingga bernilai ekspor. “Inilah yang jadi harapan kami agar masyarakat bisa lebih menghargai daur ulang sampah ini dan menggunakannya dalam keseharian,” tutur founder Trashion dengan Facebook Trashion Indonesia dan Instagram Indonesia Trashion.

Yanti tentu juga harus membayar para penjahit yang diberdayakannya. Tak dimungkiri menjahit kemasan plastik ini, di samping makan waktu, juga lebih rumit ketimbang menjahit kain. Tak heran untuk dompet koin saja hanya bisa diproduksi 20-25 per hari. Sementara tas tote paling banyak lima buah. Tidaklah salah bila harga produk Trashion dengan tagline “From Waste To Style” ini relatif tidak murah.

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar