Senin, 06 Februari 2017

Kuliner Khas Tionghoa Menjadi Legendaris di Naga Kentjana di Bogor

Perayaan Tahun Baru Imlek identik dengan makanan lezat khas Tionghoa. Entah membuat sendiri maupun membeli, tergantung selera masing-masing keluarga. Nah, bagi penyuka jalan-jalan sambil berburu kuliner khas Tionghoa, sudah tidak diragukan lagi bahwa kawasan Suryakancana menjadi pilihan.

Selain bagunan dan pertokoan di sana yang sangat kental dengan budaya Tionghoa, hampir semua makanan yang disajikan merupakan makanan khas Tionghoa peranakan yang sudah dipadukan dengan lidah orang-orang Tionghoa-Indonesia.

Salah satu tokonya yaitu Naga Kentjana. Tempat makan Naga kencana yang sangat identik dan mudah dicari karena banyak memasang lampion di luar toko merupakan salah satu tempat makan legendaries yang sudah turun temurun dijalankan oleh pemiliknya.

Berdiri sejak tahun 1979, menantu dari pemiliki pertamanya, Mardi Liem yang saat ini mengelola dan meneruskan. Dia mengatakan tidak banyak yang dirubah dari restoran yang kurang lebih sudah 40 tahun berdiri ini.

“Apalagi cita rasa dan resep-resep orangtua yang memang masih kami pertahankan hingga saat ini dan seterusnya,” jelas pria yang akrab disapa Babah

Bagi pencinta masakan di Naga Kencana pastinya sudah tahu bahwa hampir semua bahan baku masakan mereka merupakan bahan-bahan asli buatan sendiri yang berasal dari bahan makanan berkualitas yang menyehatkan.

Yaitu mie mereka yang terbuat tanpa menggunakan cairan alkali. Upaya mereka dalam mempertahankan restoran turun temurun dua generasi tersebut bukan hanya rasa dan sejumlah bahan baku dan menu yang tidak dirubah resepnya.

Tapi, Babah menjelaskan, hiasan sejumlah puluhan lampion yang identik dengan budaya Tinghoa pun menjadi daya tarik tersendiri toko ini.

Ketika masuk, kita juga dapat menikmati kembali Bogor pada zaman dahulu melalui bingkai-bingkai foto yang menghias dinding-dinding rumah makan bertemakan classic itu.

“Kami ingin tamu atau pengunjung yang hadir, sambil makan mereka sambil bernostalgia bagaimana penampakan Bogor zaman dahulu,” beber Babah.

Sebab, salah satu pengalaman yang berkesan yang menjadi alasannya terus mempertahankan restoran yaitu pelanggan mereka merupakan pelanggang yang turun temurun makan disini hingga tiga generasi.

“Kalau kami masih buka dengan dua generasi, tapi pelanggan kami justru ada yang sudah tiga generasi ke sini, makanya itu salah satu alasan kami tetap mempertahankan restoran di tengah surutnya penjualan saat ini,” ungkap Babah.

Mardi berharap, dengan berkembangnya Kota Bogor khususnya saat ini yang dibangun oleh Walikota Bima Arya, bisa menjadikan kawasan Cina di Suryakencana kembali hidup melalui pembenahan infrastruktur jalur masuknya kendaraan yang selama ini membuat para pengunjung merasa tidak nyaman karena selalu identik dengan macet.

“Jalan masuk Surken sudah sangat identik dengan pasar yang macet dan jalan sempit karena parkir pun ditengah jalan, saya ingin itu dibenahi sehingga pengunjung atau wisatawan Bogor pun merasa nyaman melewati itu, dan kawasan ini juga menjadi hidup kembali,” harap Babah.

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar