Sabtu, 25 Februari 2017

Kisah Ibu Nuraeni yang Ditinggal Mati Suaminya, Kini Sukses Usaha Abon Ikan

Berawal dari kepepet setelah ditinggal mati suami tercinta, Nuraeni (49) berhasil keluar dari tekanan ekonomi demi membesarkan tiga anaknya yang masih kecil-kecil dari usaha pengolahan ikan.

Ibu tiga anak, warga sekaligus ketua RT 3, RW 3, Kelurahan Pattingaloang, Kecamatan Ujung Tanah, Makassar ini sempat jatuh bangun mengembangkan usaha pembuatan abon ikan dan beberapa jenis olahan ikan lainnya. Namun, kini bukan hanya mampu hidupi diri dan anak-anaknya, tapi juga orang lain seperti keluarga nelayan yang ada di sekitar kediamannya yang selama ini hidup pas-pasan dan tercekik tengkulak.

"Karena kepepetlah, ada power, muncul kekuatan untuk bangkit. Siapa yang mau hidupi saya dan anak-anak kalau bukan saya sendiri. Di sisi lain, nasib istri-istri nelayan di sekitar saya tidak jauh beda. Sudah dililit utang, anak-anak ada yang putus sekolah, jadi korban kekerasan suami pula. Dari situ saya berpikir untuk mengajak mereka bangkit bersama-sama," tutur Nuraeni yang ditemui di kediamannya beberapa waktu lalu.

Dulu, kata alumni Fakultas Sospol Universitas Hasanuddin (Unhas) yang akrab disapa Ibu Eni ini, dia hidup enak karena ada suami beri uang tiap bulan yang kala itu bekerja di salah satu perusahaan BUMN. Berada di dalam pusaran zona nyaman membuatnya sama sekali tidak pernah berpikir untuk menggali potensi diri. Tapi setelah ditinggal mati suami, semua kondisi berbalik. Mau tidak mau harus berpikir bagaimana cara melanjutkan hidup.

"Anak bungsu kala itu masih usia satu tahun. Yang sulung enam tahun. Suami meninggal dunia, bingung mau bagaimana. Meskipun kita sarjana tapi kalau baru mau cari kerja, usia sudah terlanjur lewat. Mau memulai, ada anak masih kecil-kecil," Ibu Eni berkisah.

Menurutnya, semua yang dialami di tahun-tahun sulit di 2007 lalu adalah sebuah pembelajaran yang luar biasa. Sebab tekanan kondisi, membuatnya harus berpikir cepat, berpikir kreatif. Dan mulailah saat itu muncul ide untuk mengembangkan usaha olahan ikan karena kebetulan kediamannya dekat dengan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Paotere.

Ibu Eni kemudian menggalang istri-istri nelayan yang hidupnya juga jauh lebih nestapa. Awalnya mereka hanya berlima masing-masing urunan uang Rp 500 ribu, terkumpul Rp 1,5 juta dijadikan modal awal. Produk pertama yang diproduksi adalah abon ikan tuna. Kelompok ibu-ibu ini diberi nama Usaha Kelompok Fatima Az Zahra.

Sengaja memilih usaha olahan ikan karena bahan bakunya mudah diperoleh dari lokasi tempat tinggal. Juga sengaja memilih produk abon ikan tuna karena bisa tahan lama untuk menghindari risiko kerugian yang besar. Abon ikan tuna bisa tahan hingga 6 bulan asalkan tingkat kekeringannya bagus dan tidak terpapar matahari langsung.

Kini, produksi abon mencapai satu ton. Silakan klik selanjutnya.

"Saat kami masih lima orang itu produksi masih 35 kilogram per bulannya. Seiring berkembangnya usaha, jumlah istri-istri nelayan yang bergabung dengan kami sudah puluhan orang, produksi pun terus bertambah karena pemasaran juga sudah mulai lancar. Produksi bisa sampai satu ton jika tiba musim libur, musim haji dan musim banyak tamu instansi-instansi. Olahannya pun kini bukan hanya abon ikan tuna tapi juga ada ota-ota ikan tengiri, nugget ikan, bakso ikan tuna, bakso sayur dan bandeng cabut tulang," tutur Ibu Eni seraya menambahkan, usahanya berkembang, tidak luput dari bantuan pihak pemerintah setempat, BUMN, organisasi wanita dan pihak swasta yang menyalurkan CSR nya, membantu dana, kredit dan peralatan.

Disebutkan, jumlah anggota kelompok usaha Fatima Az Zahra kini sudah ada 30 orang. Belum termasuk yang mengurus administrasi misalnya yang melakukan penagihan, mengurus promosi produk di media sosial dan istri-istri nelayan yang bekerja paruh waktu jika pesanan menumpuk.

Kelompok ini, kata Ibu Eni, bukan hanya mengurus bagaimana pekerjaan bertahan agar dapur tetap mengepul dan bisa hidup layak, tetapi juga mengurus hal-hal bersifat sosial. Misalnya mengurusi anggota bahkan ibu-ibu lainnya yang menjadi korban KDRT, anak-anak yang putus sekolah, makanan bergizi untuk para Lansia yang ada di sekitar, mengurus warga yang hendak cerai dan lain lain.

Menurut Ibu Eni, KDRT kerap terjadi di tengah kehidupan istri-istri nelayan karena belitan utang. Jika di musim-musim tertentu, suami tidak melaut karena cuaca, tinggal di rumah rawan terjadi pertengkaran yang berujung pada tindak kekerasan suami. Itulah sebabnya, istri harus mandiri secara ekonomi agar bisa membantu kehidupan keluarga.

"Hikmah yang saya petik dari apa yang telah saya lalui adalah itu semua pembelajaran yang luar biasa. Kita tidak tahu kapan Tuhan menguji, kapan kita terpuruk. Dan jangan larang perempuan itu mencari nafkah karena pekerjaan bisa diciptakan di dalam rumah sehingga tetap bisa mengurus urus suami dan anak-anak. Itu pengalaman saya," tutup Nuraeni.

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar