Senin, 27 Februari 2017

Awalnya Coba-coba Tetapi Batik ini Mampu Dipasarkan Hingga Mancanegara

Geliat wirausaha di Kota Semarang tidak hanya untuk orang-orang yang sudah mapan dan bermodal besar.

Anak-anak muda di Ibu Kota Jawa Tengah (Jateng) ini juga banyak yang memilih berwirausaha daripada bekerja sebagai karyawan. Salah satunya pasangan muda Muhamad Ginanjar Wijayanto-Rosi Mersita Diwayani. Kecintaan pasangan suamiistri (pasturi) ini atas kain batik mampu dikreasikan menjadi potensi ekonomi yang bernilai tinggi. Mereka berdua mengkreasikan batik yang terkenal dengan busana formal menjadi pakaian gaul yang rancangannya mengikuti selera masyarakat.

Ginanjar menceritakan, saat ini usia dia maupun istrinya masih 26 tahun. Sempat bekerja sebagai karyawan, tetapi akhirnya memilih keluar untuk mengembangkan usahanya. “Sebenarnya sudah sejak kuliah menjalani bisnis ini, tapi ya masih kecil-kecilan. Baru benarbenar fokus bisnis batik sejak 2013 lalu,” kata dia kemarin. Dia mengaku tertarik menjalani bisnis batik bukan tanpa alasan. Karena batik merupakan warisan leluhur yang bisa memperkenalkan nama Indonesia sehingga perlu dilestarikan oleh anak-anak muda.

“Dari situlah saya mulai berpikir dan ada peluang bisnis. Karena memang batik sekarang mulai menjadi fashion yang menarik,” ujarnya. Atas landasan itu, Ginanjar bersama istrinya memutuskan untuk memulai usaha batik yang sudah dirintis kecil-kecilan sejak masih kuliah. Dia mengaku, untuk membangun bisnis batik tidak mudah. Apalagi persaingan di pasaran begitu ketat, karena banyak pengusaha batik yang sudah mapan. “Awalnya sih cuma kulakan baju batik langsung jadi saja. Tapi setelah tahu proses pembuatannya, akhirnya kami mulai memberanikan diri untuk memproduksi baju sendiri,” katanya.

Alumnus Universitas Diponegoro (Undip) itu kemudian membuat brand“Ansimeta Batik” untuk memuluskan bisnis-nya. Usaha membangun bisnisnya tidak semudah membalikkan telapak tagan, dia harus jatuh bangun agar bisa eksis dan bisa melebarkan usahanya tersebut. “Untuk bersaing, kami membuat batik sesuai dengan selera atau keinginan pelanggan. Meski awalnya sulit, alhamdulillah sekarang sudah mulai ada perkembangan,” ujarnya.

Mulai dari kecil-kecilan, sekarang ia sudah memiliki sejumlah karyawan dan bisa memproduksi batik dalam jumlah besar. Batik produksinya tidak hanya dijual secara online, tetapi mulai dipajang di sejumlah gerai dan mal di Jakarta, Bandung, sampai Surabaya. Bahkan kini pemasarannya sampai Malaysia dan Brunei Darussalam. “Kami tetap mengutamakan kualitas. Ini merupakan strategi agar pelanggan tidak kabur, karena ketika kualitas bagus banyak yang mencari,” imbuh istri Ginanjar, Rosi.

Menurut dia, kualitas bagus dan harga yang cukup bersaing membuat produksi batik yang digeluti tetap bisa bertahan. Harga yang ditawarkan mulai Rp50.000 sampai Rp200.000. Ada juga yang lebih mahal tergantung dengan kualitas dan model yang diinginkan pelanggan. “Kalau pesanan banyak, sebulan bisa mendapatkan laba bersih sampai Rp10 juta,” tuturnya.

Dia mengaku akan terus menekuni bisnis untuk batik. Tidak hanya sebatas materi, tetapi ia ingin mengajak dan memperkenalkan batik sebagai warisan leluhur yang harus dilestarikan. Selain itu, ia selalu berusaha melakukan inovasi agar batik cap printingtetap bisa eksis dan banyak diminati kawula muda.

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar