Sabtu, 21 Januari 2017

Martha Nalurita Kini Sukses Membuka Usaha Butik

Seperti peribahasa air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga, Martha Nalurita, 34 tahun, mewarisi bakat dan keahlian ibunya. “Mungkin menjahit sudah jadi DNA keluarga kami,” kata Martha saat ditemui di kediamannya, Perumahan Balikpapan Baru, Kalimantan Timur, Senin lalu. Martha memang sudah belajar menjahit sejak bocah. Cuma, dia tak pernah berpikir menjadikan kepiawaian menjahit sebagai profesi seperti ibunya. 

Sang ibu, Sri Suwantiyah, adalah penjahit sejak 1968. Usaha ibunya masih bisa dijumpai hingga kini di kawasan Panembahan, Yogyakarta, dengan nama Modiste Samanta. Martha sempat menekuni profesi wartawan setelah lulus kuliah jurnalistik di Universitas Atmajaya Yogyakarta pada 2007. Dua tahun sebelum lulus, ia menjadi kontributor sebuah media massa. Profesi itu berakhir pada 2011 ketika dia menikah. 

Martha kembali mengasah kemampuan menjahitnya mulai 2012. Awalnya, hanya untuk mengisi waktu luang. Sejak ikut suami yang pindah tugas dari Yogyakarta ke Balikpapan pada 2011, Martha praktis menjadi ibu rumah tangga. Baru pada 2015, ia memulai kariernya sebagai modiste. 

Senin lalu, sebuah mesin obras terpojok di kamar seluas 3 x 3 meter. Satu mesin jahit manual merek Singer diletakkan di sudut ruang tamu, tertimbun belasan baju pesanan para pelanggan. Nyaris tidak ada sisa ruang selain untuk tumpukan baju dan kain. Melengkapi kondisi rumah yang seperti kapal pecah. Martha menyulap rumah dinas suaminya di Perumahan Balikpapan Baru, Kalimantan Timur, itu sebagai workshop menjahitnya.

Di rumah itu, Martha kadang dibantu dua karyawan sebagai tenaga penjahit. Kadang dua karyawannya itu bekerja di rumahnya masing-masing menggunakan sistem target waktu penyelesaian. Kebanyakan pesanan pakaian pelanggan dari bahan lurik, batik, dan katun. “Rancangannya saya ambil dari perkembangan fashion di dalam dan luar negeri,” kata Martha. Tidak sedikit juga pelanggan yang sudah menyiapkan bahan dan model sendiri. “Apa pun busana selera konsumen, bisa kami bikin,” kata Lukas Adi Prasetyo, suami Martha, wartawan sebuah koran nasional yang bermarkas di Jakarta.

Di Samantha Project—merek produk Martha—Lukas, 37 tahun, bertugas sebagai sopir, marketing, sekaligus pemodal. “Saat tidak ada liputan, semuanya saya kerjakan,” kata Lukas tersenyum. Maka, bila produk-produk Samantra Project ada di akun Instagram, Facebook, dan situs Modistesamantha.com, itu adalah hasil kerja Lukas. Kini, setelah dua tahun berjalan, Samantha Project bisa menghasilkan omzet minimal Rp 10 juta per bulan dari jasa menjahit dan menjual busana ready to wear. 

Samantha Project bukanlah bisnis pertama yang ditekuni Martha sejak pindah ke Balikpapan. Pada 2013, ia membuka food truck di Lapangan Merdeka, Balikpapan. Pekerjaan itu diselingi dengan berjualan pulsa dan menjadi kontributor untuk sejumlah media internasional. Tapi hasilnya tak seberapa, padahal lelahnya tiada terkira. “Saya sempat memasak hingga larut dan langsung membuka jualan pukul empat pagi,” ia mengingat. “Persaingan bisnis kuliner di sini luar biasa.” 

Untungnya, pada 2012, Martha sempat membeli mesin jahit manual merek Singer seharga Rp 2,1 juta. Mesin jahit itu awalnya hanya untuk melepas rindu menjahit. Satu atau dua potong baju untuk diri sendiri dan suami diselesaikan di Singer itu. Martha kemudian membeli sebuah mesin obras dan satu mesin jahit elektrik. Klangenan itu bertahan tiga tahun sampai akhirnya berubah menjadi profesi pada 2015. “Setelah lancar menjahit lagi, saya kepikiran meneruskan bisnis menjahit ibu di Balikpapan.”

Masalah datang. Mesin sudah ada, keahlian kembali, tapi calon pelanggan belum muncul. Martha mengakui, posisinya sebagai perantau tanpa famili menyulitkan upaya mencari konsumen. Terpaksa dia mengandalkan pertemanan sang suami, media sosial online, dan komunitas gereja. “Hasilnya mulai terasa saat ada yang meminta jasa jahitan baju seharga Rp 100 ribu, di luar bahan baku. Senangnya luar biasa,” kata Martha. 

Sejak itu, roda imbang mesin jahit Martha berputar kencang. Para pelanggan makin percaya akan kualitas jahitan Martha yang mengambil spesialisasi gaun dan kebaya. Martha kini merambah model pakaian ready to wear untuk laki-laki, perempuan, unisex, serta anak-anak. 

Seorang pelanggan Samantha Project, Fransisca Nieken, 39 tahun, mengaku sudah dua kali memesan gaun kepada Martha. Menurut warga Perumahan Pondok Karya Agung, Balikpapan, ini, gaun bikinan Martha selalu trendi. “Berkarakter,” kata Fransisca, Kamis lalu. 

Samantha Project kini menjual jasanya seharga Rp 100 ribu untuk pakaian model sederhana. Adapun yang lebih rumit, seperti kebaya, jasanya bisa sampai Rp 1 juta. Harga pakaian ready to wear-nya berkisar Rp 300-500 ribu. Tiap bulan, pesanan dan ready to wear yang mampu digarap Samantha Project sebanyak 30 potong. 

Lukas mengakui kapasitas produksi Samantha Project masih kecil. “Susah mencari tenaga jahit di sini.” Pernah Lukas dan Martha membuka lowongan tenaga penjahit sejak pertengahan 2015. Dan mereka baru mendapatkannya tiga bulan kemudian. Bahkan, ia pernah berusaha “mengimpor” penjahit dari Yogyakarta, tapi hasilnya nihil. Makanya, ujar Lukas, Samantha Project masih membatasi produksi pakaian ready to wear. Setiap model pakaian jadi hanya diproduksi paling banyak tiga potong. “Belanja bahan baku, membuat pola, memotong bahan, menjahit, sampai finishing masih dikerjakan oleh istri saya.”

Lukas sadar dan memutuskan untuk berbagi beban dengan istrinya. Dia kemudian membuat konsep order jahitan melalui website Samantha Project. Laman itu dilengkapi panduan bagi pelanggan untuk menghitung sendiri ukuran pakaian yang akan dipesan. “Panduannya bisa lewat telepon, e-mail, serta chatting.” Order jarak jauh itu diyakini belum pernah dilakukan modiste lain, setidaknya di Balikpapan. “Masyarakat urban tidak punya waktu untuk mengurusi hingga detail pengukuran,” ujarnya.

Sumber: http://goo.gl/dMfvp5

1 komentar:

  1. SAYA MENYAMBUT ANDA SEMUA DI HALAMAN INI
    INI CERITAKU

    Saya MURNI SANTI, Seorang wanita, ibu, saudara perempuan dan teman dari (Bekasi), Indonesia, saya adalah REAL ESTATE MANAGER dan saya telah mengalami banyak tekanan keuangan akhir-akhir ini, tidak ada yang mau meminjam kami uang untuk menyelesaikan proyek komersial kami yang telah dibangun beberapa bulan sekarang. Saya telah ditipu oleh beberapa perusahaan peminjaman palsu yang mengklaim sejumlah besar uang dari saya tanpa kami tidak menerima pinjaman.

    Saya frustrasi, suami saya mencoba yang terbaik dan membantu, saya akan bunuh diri karena rasa sakit itu, itu terlalu berat untuk ditanggung dan saya kehilangan semua harapan, sampai saya diperkenalkan dengan SEMUA PINJAMAN HIBAH GLOBAL sebuah perusahaan pinjaman yang disponsori oleh bank dunia itu sendiri.

    Saya memutuskan untuk mengajukan pinjaman dan menghubungi perusahaan, petugas pinjaman mereka yang benar-benar memberi saya harapan dan mengatakan kepada saya untuk tidak khawatir perusahaan akan meminjamkan uang kepada saya, bahkan ketika jumlah yang saya butuhkan sangat besar, dan semua yang bisa saya berikan kepada mereka persyaratan yang merupakan beberapa informasi pribadi, yang saya lakukan.

    Saya menjalani semua proses, mereka berjanji untuk meminjamkan uang yang saya minta setelah mengonfirmasi bahwa saya memenuhi syarat untuk pinjaman, saya diminta untuk menunggu, yang paling mengejutkan adalah pinjaman masuk ke akun saya dan saya mengkonfirmasinya .. Perusahaan kembali secara finansial dan keluarga saya baik-baik saja, ini membuat hidup saya lebih baik, saya bersyukur kepada Allah dan kepada SEMUA PINJAMAN HIBAH GLOBAL
    GMAIL ..... allglobalgrantloan@gmail.com

    UNTUK MENGHUBUNGI KU
    NAMA Perusahaan: SEMUA PINJAMAN HIBAH GLOBAL
    EMAIL Perusahaan: allglobalgrantloan@gmail.com.
    Whatsapp Perusahaan: +1(304)997-4034
    Nama Saya: MURNI SANTI
    Email Saya: murnisanti55@gmail.com

    BalasHapus