Sabtu, 24 Desember 2016

Mengintip Peluang Bisnis Sebagai Sampingan Taksi Online

Sejak awal lahir di Indonesia, transportasi online sudah menuai pro dan kontra. Industri transportasi online dianggap bertentangan dengan UU Nomor 22 Tahun 2009 mengenai LLAJ yang mana transportasi online belum diakui.

Meskipun begitu, hadirnya transportasi online seperti Uber, GrabCar dan Go-Car dipandang menjawab kebutuhan kebutuhan masyarakat akan angkutan yang nyaman dan mudah untuk didapati. Selain itu industri ini juga membuka lapangan pekerjaan baru.

Meski menuai banyak pertentangan, siapa yang menyangka bisnis transportasi online ini banyak memberikan pundi-pundi keuntungan bagi pengemudi. Seperti Martino Gumara, pria yang bekerja sebagai staf perusahaan swasta di bilangan Jakarta ini cukup banyak meraup keuntungan dari bisnis sampingannya, di bidang transportasi online.

Tino adalah pemilik salah satu naungan perseroan komanditer (CV), yang mengoperasikan tujuh unit mobil. Dia telah merekrut partner yang bersedia sebagai sopir usahanya tersebut. Tiga unit mobil di antaranya dikhususkan sebagai taksi online.

Tino menceritakan setiap harinya mengantongi pendapatan sebesar Rp200 ribu. Artinya, jika dihitung dalam satu bulan mendapatkan sekira Rp6 juta. Keuntungan itu didapat hanya dari satu mobil. Jika dia mengalokasikan tiga kendaraan, maka dia mendapat Rp18 juta dalam satu bulan.

Tino menyebutkan, awal mula memulai bisnis transportasi online ini sejak empat bulan lalu yang terinspirasi dengan menjamurnya fenomena online shop dan menjadi alternatif bagi kebanyakan masyarakat yang ingin belanja.

"Tahun 2008-2009 siapa yang berani belanja memesan di internet, transfer terus menunggu barang? Tapi sekarang, rata-rata warga pakai online shop," kata Tino.

Alasan selanjutnya, pria yang baru memiliki buah hati ini sangat tergiur dengan profit dari transportasi online ini. Apalagi, Tino memprediksi bisnis GrabCar dan Uber akan terus berkembang seiring berkembangnya teknologi.

"Sistem yang dibuat sama Grab dan Uber, saya merasa bisa dapat margin yang cukup untuk operasional mobil itu sendiri," tambahnya.

Dirinya memiliki dua skema perjanjian operasional kerjasama yang nantinya bisa dipilih dengan partner (supir).

"Yang pertama perjanjian pengoperasian kendaraan itu saya menyediakan armada untuk melayani orderan Grab Car yang dioperasikan oleh partnernya, dan si partner setiap hari setor Rp200 ribu per hari. Bensin jadi tanggungan partner dan selebihnya jadi milik partner sepenuhnya, seperti bonus dan lain-lain," jelasnya.

Skema perjanjian yang kedua, Tino menyebutkan, dengan sistem sewa beli, di mana partner selama waktu yang ditentukan bisa memiliki kendaraan sendiri. Jadi, perusahaan menyediakan armada dan kontrak selama lima tahun dengan setoran kisarannya Rp285 ribu sampai Rp300 ribu tiap harinya, tergantung dengan armada yang digunakan. "Setelah kontrak selesai armada jadi milik partner sepenuhnya," imbuhnya.

Menurut owner Gumara Rentcar ini, pengoperasian aplikasi Grab Car sama seperti pada umumnya. Di mana, partner mengunduh aplikasi. Jika Grab Car rekening akun terdaftar atas nama pemilik mobil. Dan partner bisa mencari penghasilan langsung, sebab sistem Grab Car membayar secara tunai.

Berbeda dengan sistem yang diterapkan Uber, yang mana setiap transaksi menjadi saldo atau masuk dalam rekening pemilik. Namun, partner pun akan dibuatkan rekening sesuai dengan yang digunakan Grab Car dan Uber. "Ya, selain buat terima bonus dan pembayaran dari Grab atau Uber sekalian buat tempat setoran si partner juga supaya gampang," jelasnya.

Sumber: http://goo.gl/XIXac9

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar