Kamis, 15 Desember 2016

Jalur Trotoar Akan di Perluas Untuk Menata Wajah Kota Bogor

Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat, terus berupaya menata wajah kota, mengurai sengkarutnya lalu lintas, di tengah keterbatasan infrastruktur jalan dan mobilisasi kendaraan yang terus bertambah dari waktu ke waktu.

Membangun trotoar sebagai pedestrian yang nyaman menjadi salah satu upaya untuk mengurangi jumlah pengendara pribadi, mendorong masyarakat untuk mau berjalan kaki sebagai hirarki tertinggi dalam transportasi.

Pertengahan Juni 2016, pembangunan proyek trotoar di seputar Kebun Raya Bogor dan Istana Presiden dimulai. Proyek ini mendapat bantuan pendanaan dari pemerintah pusat tersebut dijadwalkan selesai 22 Desember ini.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto meyakini, pembangunan trotoar seputar Kebun Raya dan Istana Bogor merupakan trotoar terluas yang ada di tengah kota, pertama di Indonesia.

"Bertahap Bogor menuju ke arah transportasi ramah lingkungan, mendorong masyarakat berjalan kaki, bersepeda dan menggunakan angkutan umum," kata Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto, beberapa waktu lalu.

Pemkot Bogor menunjuk PT Wiraloka Sejati sebagai kontraktor pelaksana untuk membangun proyek senilai Rp32,3 miliar yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) infrastruktur publik daerah pedestrian

Pekerjaan pembangunan fasilitas pedestrian dan jalur sepeda seputar Kebun Raya Bogor terbagi dalam empat tahapan pengerjaan, yakni tahap pertama di Jl Pajajaran mulai dari Tugu Kujang sampai Pintu Tiga Kebun Raya Bogor sepanjang 348 meter dan lebar tujuh meter, telah dilaksanakan pada akhir tahun 2015.

Tahap kedua dimulai dari Jl Jalak Harupat sepanjang 1.040 meter persegi dengan lebar lima meter. Lalu tahap ketiga, rehabilitasi trotoar Jl Juanda sepanjang 1.680 meter persegi dengan lebar 2,5 meter. Tahap keempat ada di Jl Otista sepanjang 700 meter.

"Tahap keempat cukup banyak pekerjaannya, jalur pertama pertama sepanjang 700 meter dan kedua 2,5 meter," katanya.

Selain membangun trotoar juga dilakukan pelebaran Jembatan Otista II sepanjang 12 meter dengan lebar enam meter terbagi dua meter ke kiri dan empat meter ke kanan. Juga, ada pembangunan turap (TPT) sepanjang 100 meter dengan tinggi 3,5 meter.

Terakhir ada peningkatan 'overlay' di Jl Otista sepanjang 700 meter dengan lebar 15 meter.

Menurut Bima, pejalan kaki merupakan prioritas, hirarki pertama dalam transportasi sehingga kehadiran fasilitas pedestrian menjadikan Bogor sebagai surga bagi pejalan kaki, dan Pemkot mendorong masyarakat mau berjalan kaki.

"City Walk Bogor" Mendorong masyarakat Kota Bogor untuk berjalan kaki telah dimulai sejak Desember 2012 di era kepemimpinan Wali Kota Diani Budiarto meresmikan fasilitas pedestrian di Jl Nyi Raja Permas.

Fasilitas pedestrian tersebut dibangun oleh Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat. Hal ini sesuai dengan Undang-Udang Lalu Lintas, Pemerintah wajib menyediakan fasilitas untuk kepentingan rakyat.

Pedestrian tersebut terkoneksi dengan layanan kereta api merupakan salah satu upaya untuk mengembalikan Kota Bogor menjadi kawasan asri seperti puluhan tahun silam.

Antara Stasiun Bogor dan Terminal Angkutan Kota saling terkoneksi, penumpang dari kereta dapat melanjutkan perjalanan menggunakan moda transportasi angkutan umum, dengan berjalan kaki dari stasiun ke terminal yang ada di Taman Topi.

"Mari bersama-sama kita jadikan pedestrian di Jl Nyi Raja Permas ini sebagai awal dari 'City Walk-nya Kota Bogor," kata Wali Kota Diani Budiarto kala itu.

Pembangunan fasilitas pedestrian di Jl Nyi Raja Permas melalui proses yang sangat panjang. Dahulu kawasan tersebut dikenal cukup padat dan kerap terjadi kemacetan karena menjadi titik perputaran angkot untuk mengambil penumpang dari Stasiun Bogor.

Selain itu, aktivitas pedagang sepatu dan bongkar-muat barang dari toko-toko sepatu menambah padat jalur yang terkendala dengan kemacetannya. Hingga akhirnya Pemerintah Kota Bogor mengambil kebijakan tepat, membangun pedestrian dan menghilangkan salah satu titik kemacetan di kawasan itu. Rute angkotpun mengalami penyesuaian.

Hingga akhirnya tahap kedua pembangunan fasilitas pedestrian dilanjut dari Nyi Raja Permas menuju Jl Kapten Muslihat dan berakhir di depan Hotel Salak. Komitmen untuk mengembalikan minat jalan kaki masyarakat dikokohkan dengan monumen hijau yang berada di persimpangan antara Jl Kapten Muslihat dan Jl Dewi Sartika.

Proyek pembangunan trotoar tersebut berlangsung bertahap. Tahap ketika dilanjutkan pada tahun berikutnya, yakni mulai dari depan Mapolwil Bogor Jl Kapten Muslihat hingga SMPN 1 di Jl Juanda. Rencana akan ada tahap keempat, yakni dari SMPN 1 sampai dengan BTM di Jl Juanda.

Keberadaan trotoar di Kota Bogor mendapat tempat di hati masyarakat, untuk menggaungkan lagi minat berjalan kaki, dan mengajak masyarakat ikut memelihara fasilitas yang telah dibangun dengan uang rakyat tersebut. Tahun 2015, Koalisi Pejalan Kaki Kota Bogor memberikan penghargaan kepada pihak yang berkontribusi dalam merawat fasilitas umum tersebut. 

"Pedestrian Award ini selain sebagai motivasi juga untuk mendorong swasta lebih peduli dalam menjaga dan merawat jalur pedestrian yang ada di lingkungan sekitarnya," kata Ketua Koalisi Pejalan Kaki Kota Bogor Irna Kusumawati. 

Menurut Irna, ide Pedestrian Award lahir dari keprihatinan terhadap kondisi sarana bagi pejalan kaki di Kota Bogor yang menghadapi tantangan, seperti kebersihan, keamanan dan kenyamanan, ramah difabel dan juga bebas PKL serta parkir liar. 

"Kami terus mendorong kepedulian swasta maupun perkantoran dan masyarakat sekitar pedestrian untuk ikut merawat dan menjaga fasilitas umum tersebut agar lebih baik," katanya. 

Bagi Bima Arya Sugiarto, Kota Bogor sangat memungkinkan dirancang menjadi surga bagi pejalan kaki. Pejalan kaki juga terkait erat dengan konsep penataan transportasi masa depan, yakni Bogor Trasportation (B-TOP) yang ramah lingkungan dan warga menggunakan fasilitas transportasi umum serta berjalan kaki. 

"Jangan sampai, trotoar ini jadi surganya PKL, harus menyiapkan sistem untuk mengawasi, rencana tambah personel Satpol PP berkoordinasi dengan DKP dan DLLAJ agar tidak ada titik yang luput harus bersih dari PKL," kata Bima.

Sumber: http://goo.gl/CEni8O

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar