Kamis, 22 Desember 2016

Ide Kreatif Yang Merubah Paralon dan Kayu Menjadi Miniatur KA

Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda, kata bijak itulah yang menjadi pedoman Dimas Anggoro Gauli Prihanarta, pelajar SMA warga desa Jabon, Mojokerto. Remaja yang masih berusia 18 tahun itu mampu membiayai hidupnya sendiri dengan membuat kerajinan miniatur kereta api (KA).

Berkat kegigihannya ia mampu membuat miniatur kereta yang sudah dipasarkan di berbagai kota di Indonesia. Mengerjakan miniatur dilakukan Dimas setelah pulang sekolah, seakan tidak ada waktu untuk sekedar berkumpul atau pun bercengkerama dengan teman-temannya karena pesanan miniatur harus cepat selesai dan dikirim ke pemesan.

Miniatur dibuat Dimas menggunakan pipa paralon dan kayu. Jemari-jemarinya terlihat begitu terampil. Satu persatu bahan dipersiapkannya menggunakan alat sederhana berupa gergaji besi, cutter serta gunting berukuran sedang, pipa paralon berbahan plastik yang kemudian dipotong sesuai dengan ukuran yang diinginkan.

Potongan pipa itu lantas disambungkan dengan gerbong berbahan akrilik yang sebelumnya telah didesain sedemikian rupa. Selanjutnya, Dimas membuat pernak-pernik kursi kereta api menggunakan bahan kimia berupa resin, setelah itu dihaluskan. Selanjutnya, gerbong KA dicat sesuai dengan warna kereta sesungguhnya.

Usaha membuat miniatur KA ini sudah ia tekuni sejak 2014. Awalnya anak kedua dari tiga bersaudara ini selalu gagal untuk membuat gerbong dari paralon, namun, berkat ketekunannya ia mampu keluar dari jurang kegagalan itu. “Keahlian membuat miniatur KA didapat secara autodidak, belajar dari internet dan banyak tukar pendapat dengan anggota komunitas pencinta KA,” ujarnya.

Untuk memasarkan hasil kerajinan miniatur KA dilakukan dengan social media facebook. Di Facebook terdapat grup komunitas pencinta KA sehingga sangat mudah untuk memasarkannya. Harga miniatur buatan Dimas memiliki harga yang bervariasi antara Rp250 ribu hingga Rp400 ribu. Para pembeli rata-rata datang dari berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, bahkan ada juga pembeli yang berasal dari luar Jawa. Keuntungan menjual miniature digunakan Dimas untuk membayar biaya sekolahnya.

Sumber: http://goo.gl/QOr1qR

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar