Selasa, 29 November 2016

Tugu Kujang simbol Kota Bogor tak lagi berwibawa

Bangunan itu masih berdiri kokoh di pertigaan Jalan Pajajaran dan Jalan Otto Iskandardinata (Otista), Kota Bogor. Beberapa petugas Polantas tampak sibuk mengatur lalu lintas di sekitar lokasi. Siang itu cuaca memang terik, tetapi embusan angin seolah menyingkirkan hawa panas.

Tugu Kujang merupakan simbol Kota Bogor. Tonggak itu menjulang setinggi kurang lebih 25 meter. Landasannya berbentuk segitiga. Posisinya berada persis di depan Botani Square. Simbol kota hujan ini diresmikan pada 30 Juni 1982 oleh Wali Kota (saat itu) Ahmad Sobana.

Sayang 'keperkasaan' monumen itu berangsur meredup. Sebab, ketinggiannya kini disalip oleh bangunan baru berdiri di sisi kanannya, Royal Amaroossa Hotel.

Mansyur (68), seorang tukang cukur mangkal sejak 1980-an di trotoar Kebun Raya Bogor, dekat Tugu Kujang mengatakan, dahulu jika dilihat dari arah Institut Pertanian Bogor (kini jadi kawasan Botani Square), pemandangan di belakang Tugu Kujang adalah Gunung Salak.

"Dulu mah gagah. Kan belum ada gedung-gedung tinggi. Dulu dari situ (menunjuk ke arah Botani Square) bisa dilihat Gunung Salak. Dulu mah belum macet, masih sejuk. Sudah beda sekarang mah," ujar Mansyur sambil merapikan meja pangkas rambutnya

Kota Bogor mencoba terus bersolek sejak lima tahun terakhir. Di sebelah kiri Tugu Kujang kini berdiri monumen Salapan Lawang (sembilan pintu). Salapan Lawang ini berbentuk tiang ala Romawi yang berjumlah 10 setinggi 13 meter. Kedua sisi Salapan Lawang diapit dua buah gazebo menyerupai Monumen Lady Raffles di Kebun Raya Bogor. Di depan Tugu kini menjadi Mal Botani Square dan Hotel Santika.

Pada 2013 silam, pembangunan Hotel Amaroossa sempat ditentang warga dan budayawan setempat. Sebabnya, tempat menginap itu dianggap menghilangkan wibawa Tugu Kujang, yang hanya setinggi 25 meter.

"Dulu Abah yang mimpin demo karena pembangunan hotel itu merusak pemandangan dan kearifan lokal di Bogor. Tugu Kujang itu sebagai simbol kearifan lokal dan ternyata kini kalah oleh kapitalis pembangunan kota," ujar Budayawan Bogor, Wahyu Affandi Suradinata atau yang akrab disapa Abah Wahyu, kepada merdeka.com, kemarin.

Menurut Abah Wahyu, dia dan budayawan lain didukung mahasiswa, ormas, dan paguyuban tidak sekadar unjuk rasa. Mereka berusaha sekuat tenaga mencegah pendirian Hotel Amaroossa melalui jalur hukum, dengan mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara atas terbitnya izin pembangunan hotel. Namun mereka tumbang.

"Yang kita demo dan gugat bukan pihak hotel tetapi Pemkot selaku pemberi izin. Tapi karena kita enggak punya duit, kalah kita di pengadilan," ujar Abah Wahyu.

Terkadang, aspirasi memang tidak sejalan dengan aturan. Sebab, menurut Asisten Tata Praja Pemerintah Kota Bogor, Ade Syarif, pemilik Hotel Amaroossa sudah menempuh proses yang panjang dalam mengurus izin sebelum mereka membangun hotel. Pemkot Bogor akhirnya merestui lantaran tidak ada yang dilanggar.

"Baik site plan dan syarat lainnya," kata Ade.

Menurut Ade, batas ketinggian bangunan di Kota Bogor berdasarkan ketentuan memang hanya enam lantai, sesuai aturan ditetapkan oleh Lapangan Udara (Lanud) Atang Sanjaja (ATS).

"Ternyata pihak hotel sudah mendapatkan izin batas ketinggian dari Lanud Atang Sanjaja," ujarnya.

Legal Officer Hotel Amaroossa, Agung, mengatakan segala persyaratan pembangunan sudah dipenuhi. Termasuk batas ketinggian bangunan dipermasalahkan itu.

"Izin HO (hinder ordonantie/izin gangguan) sampai izin batas ketinggian gedung dari pihak Lanud ATS pun sudah kami pegang," kata dia.

Sejak itu, protes sudah tak terdengar lagi. Hotel Amaroossa tetap berdiri dan mulai menerima tamu. Namun, Abah Wahyu tetap berharap ada monumen baru lebih besar dan tinggi sebagai simbol kedigdayaan Kota Bogor.

Tugu Kujang Raja

Abah Wahyu ternyata seorang mpu pembuat Kujang. Dia berharap Pemkot Bogor atau siapapun mau membuatkan Tugu Kujang Raja. Monumen lebih besar dari Tugu Kujang saat ini.

"Saya sudah ada desain Kujang Raja Ciung Sembilan. Kalau yang ada sekarang itu mah Kujang jenis kuntul. Kujang Kuntul itu dulunya pegangan para mantri atau patih kerajaan, bukan raja. Kalau Raja pegangannya kujang ciung sembilan. Dulu yang bikin tugu Kujang tidak melibatkan budayawan sehingga asal saja. Padahal Bogor itu mah harusnya Kujang Raja simbolnya," ujar Abah Wahyu.

Menurut Abah, Kujang Raja mestinya berada di depan Terminal Baranang Siang. Itu akan menghadap Tol Jagorawi menjadi simbol sekaligus ucapan selamat datang buat para pelaju.

"Saya sudah sampaikan soal usulan Kujang Raja ini ke Wali Kota dan Wakilnya, tapi sampai sekarang belum ada respon," ujarnya.

Abah Wahyu berharap Kujang sebagai simbol Kota Bogor tetap lestari dan agung. Pembangunan di kota hujan tak terelakkan, tetapi diharapkan tidak mengikis kearifan lokal sebagai sebuah budaya adiluhung.

Sumber: http://goo.gl/Oqawd1

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar