Selasa, 08 November 2016

KISAH SUKSES Lek Yono Olah Besi Tua jadi Timah Pemberat Pancing. Untungnya Rp 15 Juta Sebulan

Seorang laki-laki memasukkan umpan pancing berwarna-warni ke dalam plastik kemudian menatanya di atas meja sesuai dengan berat dan ukurannya.

Bentuk umpan pancing tersebut bermacam-macam, seperti bentuk ikan, cumi-cumi dan juga bentuk daun dengan berat antara 40 gram hingga 700 gram per buah.

"Umpan pancing ini pesanan dari daerah Bima. Mereka rutin pesan ke saya secara online," tutur Kariyono (39), warga Lingkungan Sukowidi, Kelurahan Klatak, Kabupaten Banyuwangi.

Lelaki yang akrab dipanggil Lek Yono tersebut mengaku memulai bisnis umpan pancing berbahan timah atau metal jig sejak tahun 2014.

Sebelumnya, dia bekerja di bengkel di Pulau Bali.

Metal jig sendiri biasanya digunakan untuk memancing ikan jenis predator.

Laki-laki kelahiran Banyuwangi, 6 Juli 1977, bercerita bahwa pada awalnya, dia membuat metal jig untuk dirinya sendiri karena metal jig buatan pabrik harganya dirasa cukup mahal bagi Yono.

Padahal sekali berangkat memancing, minimal Yono harus membawa 5 jenis metal jig.

Tak disangka, metal jig yang dibuat ternyata diminati oleh rekan-rekannya sesama pemancing sehingga banyak yang memesan baik langsung atau melalui online lewat media sosialnya.

"Timah yang saya pakai ini didapatkan di besi tua yang saya daur ulang kembali. Rata-rata setiap bulan sekitar 100 kilo timah yang saya olah. Habis ini saya cari lagi ke daerah Muncar karena stok sudah habis," ungkapnya.

Timah bekas tersebut kemudian dilebur dan cetak sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Kemudian dihaluskan dan diberi warna yang menarik dari cat mobil kemudian dilapisi dengan stiker serta ditambah dengan bubuk fosfor agar menyala di dalam air sehingga menarik perhatian ikan.

"Jika dimasukkan ke dalam air, selain menyala, umpan pancing ini akan melayang-layang seperti ikan kecil untuk memancing ikan yang lebih besar. Untuk mancingnya dengan metode jiging yaitu memainkan umpan," ungkap bapak anak satu tersebut.

Biasanya dengan metal jig, ikan jenis predator yang tertangkap memiliki bobot minimal 1 kilogram hingga ada yang 100 kilogram.

Dari 100 kilogram timah yang diolah, biasanya dia menghasilkan 500 buah metal jig berbagai macam ukuran dengan harga bervariasi antara Rp 25.000 hingga Rp 80.000.

Dengan menggunakan nama "Necker Jig", metal jig produksi Yono sudah dikirim hampir ke seluruh Indonesia mulai dari Bali, Kalimantan, Sulawesi, termasuk melayani toko yang ada di Surabaya.

"Pesanan cukup banyak tapi masih belum berani melayani partai besar karena yang mengerjakan disini hanya saya dan istri dibantu sama teman dan tetangga," ungkapnya.

Walaupun demikian, penghasilan Yono tidak tanggung-tanggung. Setiap bulannya, Yono bisa mengantongi keuntungan mencapai Rp 15 juta.

Sementara itu, Upik, istri Yono, mengaku mereka sempat mendapatkan pesanan dari luar negeri, seperti dari Australia dan Selandia Baru, namun ditolak karena masih tidak ada modal dan bahan baku.

"Pesannya sampai seribu lebih. Dibatalkan tapi ya enggak apa-apa. Sementara melayani yang di dalam negeri saja dulu," tutur Upik.

Sumber: http://goo.gl/NSDYFS

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar