Rabu, 16 November 2016

Dari Pengrajin Logam, Arta Wijaya Bisa Kuliahkan Sembilan Anak ke Perguruan Tinggi

Kawasan Jalan Setia, Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur, terlihat memang seperti biasa rumah-rumah penduduk yang begitu padat dikawasan ini, namun jika dicermati, di sini masih banyak pengrajin tembaga yang tetap eksis menjaga keberadaanya.

Para pengrajin tembaga ini mengunakan rumahnya sebagai tempat dalam memproduksi barang-barang yang terbuat dari logam seperti peralatan dapur, yaitu panci, oven gas, cetakan roti, bahkan juga menerima pesanan untuk pembuatan Rambu Jalan, Huruf Timbul, Logo Enbos, Neon Book, Billbord dan aneka barang yang terbuat dari material logam lainnya.

Dengan mengandalkan kejujuran dan kwalitas, Arta Wijaya (65,  pemilik home industry logam Arta Karya teknik sekaligus pengrajin logam bisa membiayai sembilan anaknya ke bangku kuliah.

Pria yang sudah 20 tahun menekunin pekerjan sebagai pengrajin logam ini mengaku sebagai pengrajin harus mengutamakan kualitas, hal itu supaya kepuasan konsumen terpenuhi.

"Kalo saya, memang menomor satukan kejujuran dan kwalitas, jika hanya kwantitas nantinya bisnis ini tidak akan panjang, karena konsumen kecewa dengan hasilnya, yang ada merugikan konsumem," katanya

Dengan menekuni usaha ini Arta dapat membiayai sembilan anaknya ke jenjang pendidikan yang tinggi.

"Alhamdulillah saat ini anak saya bisa, saya sekolahkan semua, ada yang menjadi Dokter, Pramugari, Bidan, dan yang bungsu masih kuliah di perguruan tinggi swasta di Jakarta Barat," katanya.

Kendala dalam produksi ia mengaku tidak ada, kendala sendiri terjadi ketika dollar naik, hal itu menyebabkan produksinya tidak berjalan lancar, pasalnya barang-barang yang ia ambil semuanya dari importir.

Saat ini, Arta sudah memiliki lima karyawan yang bekerja di Arta Karya Teknik, namun walau mempunyai karyawan, Arta tetap masih ikut bekerja dan memproduksi barang-barang yang terbuat dari logam.

Arta mengatakan, ia juga tidak memilih orderan, walau ada satu barang yang dipesan, ia tetap akan mengerjakannya.

"Walau memang lebih enak ketika dapat orderan banyak, saya tetap terima orderan walau hanya satu saja," katanya.

Dalam proses pembuatannya, ia mengatakan, cukup sederhana jika mengetahui tekniknya, hanya menyiapkan bahan yang dibutuhkan.

Lalu tahap berikutnya melakukan pengukuran, pengukuran sendiri sesuai dari permintaan konsumen, desainnya seperti apa, setelah itu tahap produksi.

"Terkadang, juga ada konsumen yang hanya membawa gambar saja, untuk dibuatkan sama seperti yang ada di gambar, selain itu konsumen juga ada yang membawa contoh bahan, jadi nanti tinggal kami yang mencari bahanya," katanya.

Untuk harga bervariasi tergantung dari bahannya, untuk bahan dengan ketebalan 0.10 mm berkisar Rp 150.000-400.000, sedangkan untuk ketebalan 30 mm harganya cukup mahal berkisar 1 juta.

Selain memroduksi, home industri pengrajin logam ini juga melakukan servis, biasanya mereka yang servis belum berkeinginan membeli yang baru, sehingga barang yang sudah rusak diservis kembali.

Kebanyakan, mereka dari para pedagang baso, dan ada juga warga sekitar.

Sumber: http://goo.gl/x5MUZ0

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar