Selasa, 18 Oktober 2016

Melihat Stasiun Bogor yang Kini Berubah Wajah...

Kereta api merupakan salah satu moda transportasi jalur darat favorit warga. Dalam tiap harinya, puluhan ribu warga menggunakan transportasi itu untuk ke tempat tujuannya.

Sadar akan hal ini, PT Kereta Commuter Jabodetabek (KCJ) selaku pengelola terus melakukan pembenahan di segala sisi. Mulai dari armada hingga fasilitas pendukung seperti stasiun terus dipersolek.

Salah satu stasiun yang dipercantik adalah Stasiun Bogor. Stasiun yang berdiri sejak tahun 1881 ini merupakan salah satu warisan peninggalan masa penjajahan Belanda.

Oleh karena itu, Stasiun Bogor dinobatkan menjadi salah satu bangunan cagar budaya yang dilindungi Kota Bogor. Meski dilakukan pembenahan, PT KCJ selaku pengelola tetap mempertahankan nilai historis Stasiun Bogor.

Hal ini terbukti dari pintu kayu khas bangunan Eropa tetap dipertahankan. Meski dari segi bangunan tak banyak dilakukan pembenahan, tetapi dari segi pelayanan dan kenyamanan kini jauh berbeda.

Dahulu, masih banyak didapati para pedagang asongan yang menjajakan dagangannya di peron stasiun. Alhasil, Stasiun Bogor terlihat sangat semerawut.

Kini, Stasiun Bogor menampilkan wajah barunya. Pemandangan pedagang asongan yang dulu terlihat berseliweran di dalam stasiun kini telah berganti dengan gerai-gerai makanan yang tertata rapi.

Selain itu, penumpang KRL yang baru ke stasiun tersebut tak perlu repot-repot bertanya di peron mana kereta tujuan mereka berada. Sebab, sudah ada petunjuk jelas. Misalnya, informasi tujuan Duri berada di Peron 8. Juga informasi terkait ketersediaan kereta.

Demi meningkatkan kenyamanan para penumpang, di stasiun ini juga terdapat taman kecil yang ditumbuhi pepohonan hijau. Jelas, taman ini memperindah dan memberi suasana asri pada stasiun.

Tak hanya itu, perubahan juga terjadi di pintu keluar dan masuk stasiun. Pintu yang sebelumnya menghadap ke jalan Nyi Raja Permas ditutup dan diberi pagar.

Sekarang, pintu utama dipindahkan menghadap ke Jalan Mayor Oking. Alhasil dari pembenahan ini, bangunan lama stasiun tidak lagi dipergunakan sebagai gerbang keluar masuk penumpang. Kini, bangunan lama stasiun dipergunakan hanya untuk kantor pengelola stasiun dan gerai-gerai penjual makanan.

Untuk masalah tiket penumpang, PT KCJ telah menerapkan sistem e-ticketing sebagai pengganti karcis. Sehingga, warga hanya perlu menempelkan kartu untuk masuk atau pun keluar stasiun.

Loketnya pun berada tak jauh dari pintu masuk. Sehingga, penumpang dapat dengan mudah untuk mencari loket untuk membeli e-ticketing. Selain loket, keberadaan vending machine yang menyediakan tiket sekali jalan juga sangat membantu para penumpang.

Tak hanya itu, pengelola juga memperbaiki sistem perpakiran. Jika sebelumnya terdapat banyak tempat parkir motor tak resmi, sekarang tersedia lahan parkir yang cukup luas untuk sepeda motor dan mobil penumpang. Parkiran motor kini juga dibuat menjadi dua tingkat, seperti di Pondok Indah Mall 1.

Mengenai biaya parkir, di stasiun itu sudah tidak memakai uang tunai sebagai pembayaran. Ongkos parkir akan dipotong dari saldo di Kartu Multi Trip, Flazz, Brizzi dan BNI Tap Cash.

Dari segi keamanan penumpang tak perlu khawatir, hampir di setiap penjuru stasiun terdapat petugas keamanan. Sejumlah peningkatan fasilitas di stasiun itu bak membawa angin segar bagi warga yang mendambakan pelayanan transportasi yang nyaman di Indonesia.

Dengan segala pembenahannya, bisa dikatakan Stasiun Bogor adalah stasiun yang penuh nilai historis yang dipersolek dengan unsur modern.

"Sangat terasa Mas perubahan di Stasiun ini. Dulu mah semrawut banget, banyak pedagang yang seliweran. Bagi saya ini udah nyaman banget," ujar Atma (46), salah satu penumpang Stasiun Bogor yang ditemui.

Atma mengatakan, pembenahan di Stasiun Bogor membuat para penumpang merasa lebih nyaman. Baik dari segi fasilitas maupun dari segi pengamanan.

"Dulu kalau lagi jam sibuk kita mesti waspada soalnya banyak copet. Sekarang sih banyak petugas gini kita jadi ngerasa aman, saya belum pernah nemuin ada copet lagi disini," ucapnya.

Namun, seperti pepatah yang mengatakan, "tak ada gading yang tak retak". Di tengah peningkatan fasilitas yang dilakukan PT KCJ, Atma menilai masih perlu ada peningkatan dibeberapa aspek pelayanan.

Ia mengeluhkan jadwal kereta api yang masih kerap telat. Karyawan swasta di kawasan Cikini ini meminta hal itu agar segera dibenahi demi kenyamanan para penumpang.

Tak hanya Atma, Abdullah (50) pun mengeluhkan tentang molornya jadwal keberangkatan kereta. Ia menilai keterlambatan itu sangat merugikan bagi penumpang.
"Kalau lagi keretanya telat keselnya minta ampun, Mas. Orang kantor kan enggak peduli masalah kereta telat, mereka taunya jam 9 pagi kita harus udah sampe kantor he-he-he," kata Abdullah.

Selain keterlambatan kereta, Abdullah juga menyoroti masalah minimnya bangku di Stasiun Bogor. Menurut dia, dengan minimnya bangku memaksa penumpang yang tak kebagian bangku untuk duduk di lantai stasiun.

"Kan enggak enak dilihat Mas, masa penumpang harus duduk emperan di lantai. Kalau bisa sih ke depannya ditambahin lagilah bangkunya," ujarnya.

Penumpang lainnya bernama Dina (25), juga merasa pihak pengelola dalam hal ini PT KCJ harus menambah loket. Sebab, menurut dia, saat jam sibuk kerap terjadi antrean panjang di loket.

Saat ini, baru sekitar delapan loket yang dibuka untuk melayani penumpang. Sehingga, ia berharap ke depannya akan ada penambahan loket lagi.

Tak hanya itu, Dina juga mengeluhkan mengenai minimnya atap di stasiun tersebut. Sebab, saat ini hanya dua jalur kereta yang terdapat atap untuk penumpang berteduh.

"Ini Mas atapnya saya rasa masih kurang, kalau lagi panas ataupun hujan kan penumpang jadi susah neduh," kata Dina.

Meski begitu, Dina merasa Stasiun Bogor sudah banyak peningkatan sekarang. Ia sudah cukup nyaman dengan segala pembenahan yang dilakukan.

"Alhamdulillah-lah sekarang sudah enak, enggak ada lagi tuh bapak-bapak yang ngerokok di dalem stasiun. Ini sangat membuat saya yang alergi asap rokok nyaman," ujarnya.

Sumber: http://goo.gl/lAZpnm

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar