Senin, 24 Oktober 2016

Kisah Sukses Emi Suryani, Peracik Sambal yang Digemari Turis Eropa

Berawal dari hobi memasak dan membuat sambal, ibu tiga anak ini berhasil menciptakan sambal yang digemari banyak orang. Bahkan sambal bermerk Maike ini telah melanglang buana hingga ke Eropa.

Ferial Ayu, Mataram

Inovasi Emi Suryani terbukti mampu bersaing di era globalisasi saat ini. Meski hanya untuk sekadar berjualan sambal.

Tak ada tersirat kata lelah di wajah perempuan asal Kopang, Lombok Tengah ini. Dia yakin jika mau berusaha, pasti ada jalan.

Dengan senyum ramah, dia menyambut Lombok Post (Jawa Pos Group) di warung sederhana miliknya. "Silakan duduk," katanya ramah.

Sambil merapikan jilbab yang digunakannya, dia pun memulai kisahnya. Semua berawal dari hobi anak dan keluarganya makan sambal. Setiap kali makan, anaknya selalu menginginkan sambal.

Memakan sambal dengan rasa yang sama, tentu sedikit membosankan. Ketika itu dia ingin membuat sambal yang sekaligus menjadi lauk untuk makan. "Jadi kalau tidak ada ikan, bisa langsung jadi lauk," ujarnya.

Dia pun mulai melakukan beragam percobaan. Dimulai dengan ikan asin. Butuh kesabaran besar jika ingin menciptakan sesuatu yang baru. Dia harus mengalami kegagalan berkali-kali. Sebelum akhirnya berhasil. "Saya ciptakan pertama kali untuk anak-anak," tuturnya.

Setelah berhasil, dia pun membuatnya untuk bekal makan siang anak-anaknya. Sambal ikan asin dibawa putra sulungnya ke kantor tempat dia bekerja.

Rekan kerja anaknya pun mulai mencicipi. Rasa ikan asinnya yang khas rupanya membuat mereka tertarik. Sejak saat itu, sambal yang dibekal anaknya selalu dikerubuti rekan sekantornya.

Dari situ rekan anaknya mulai meminta untuk dibuatkan juga. "Kita pesan sambal dong," ujarnya meniru ucapan rekan sekantor anaknya.

Atas dukungan ibu dan anaknya, Emi mulai menerima pesanan. Dari hari ke hari pesanan sambal rupanya semakin meningkat. Dia pun mulai melakukan percobaan lagi dengan varian lain. Dia mencoba cumi dan tongkol.

Menurut dia, berbisnis sambal tentunya penuh cobaan. Terutama dari segi ketahanan. Sambal biasanya hanya bertahan maksimal tiga hari. Namun berbeda dengan sambal Maike. Sambal ini mampu bertahan hingga 10 hari lamanya setelah dibuka.

Emi menuturkan, untuk menghasilkan sambal tahan lama perlu proses yang apik. Mulai dari pemilihan bahan. Harus menggunakan bahan yang fresh.

Selain itu, proses masakannya pun juga melalui empat kali penggorengan. Dimulai dari bahan yang digoreng secara terpisah. Kemudian ditumbuk lalu digoreng. Setelah itu dicampur menjadi satu dan digoreng kembali. Terakhir diberi ikan asin, cumi atau tongkol lalu digoreng kembali. "Saya tidak pakai bahan pengawet," akunya.

Dari mulut ke mulut, sambal Maike mulai berkembang. Pemesan bahkan tak hanya rekan anaknya, namun juga beberapa orang dari luar daerah.

Selang beberapa bulan, Emi memutuskan untuk membuka warung sederhana. Terletak tak jauh dari eks bandara Selaparang. Sambal yang dia jual ternyata juga menarik perhatian beberapa wisatawan asing yang singgah. Mereka bahkan membelinya sebagai oleh-oleh. "Mereka dari Jerman, Swiss, Vietnam, dan beberapa negara lainnya," terangnya.

Tak hanya itu, beberapa tenaga kerja Indonesia hingga jamaah calon haji membawa sambal tersebut ke Arab Saudi.

Harga yang ditawarkan pun relatif murah. Perbotol sambal dihargai sebesar Rp 25 ribu.

Berkat jualan sambal tersebut, Emi kini berhasil menyekolahkan kedua anaknya yang lain hingga perguruan tinggi. Sekaligus juga membantu perekonomian keluarganya. 

Sumber: http://goo.gl/FpIVJH

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar