Rabu, 12 Oktober 2016

IPB 3S Jadi Benih Padi Inbrida Unggulan

Seakan ingin buat hattrict yang mengesankan untuk Indonesia, Institut Pertanian Bogor (IPB) yang berdiri sejak 1963 melakukan serangkaian beyond innovation dalam menyambut Dies Natalisnya yang ke-53. 

Torehan sejarah yang akan diusungnya kali ini adalah penemuan padi inbrida varietas IPB 3S yang mempunyai potensi hasil seperti layaknya padi hibrida yang mencapai 13 ton/hektare (ha), membangun startup industri benih secara profesional untuk mendukung kemandirian benih nasional dan pengembangan IPB Science Techno Park sebagai kawasan pengembangan inovasi di bidang pertanian, pangan dan biosains termaju di Indonesia.

”Hilirisasi hasil penelitian yang telah banyak dilakukan oleh peneliti kita adalah jawaban atas upaya untuk memenuhi kebutuhan negara di dalam penyediaan pangan nasional dan derivatnya bagi ratusan juta penduduk Indonesia,” kata Dirut PT Bogor Life Science and Technology (BLST) Dr Meika Syahbana Rusli.

Dalam kesempatan lain, Dr Hajrial Aswidinnoor, penemu benih padi inbrida varietas IPB 3S yang digadang-gadang oleh IPB akan menjadi varietas benih padi inbrida unggulan IPB karena potensi hasilnya yang nyaris menyamai padi hibrida, menyatakan bahwa IPB 3S termasuk dalam kategori padi tipe baru (new plant type rice) bukan hibrida. Karenanya, arsitektur morfologinya berbeda, seperti anakan kurang tapi semuanya produktif, malai lebat hingga mencapai 300-350 bulir per tangkai, batang lebih besar dan kokoh, daun tegak dan tebal serta daun bendera lebih panjang.

Untuk upaya perbanyakan atau diproduksi secara massal, meski telah mengantongi SK Mentan tentang pelepasan varietas IPB3S, IPB tidaklah gegabah. Pengalaman di lapangan, sebaik apapun varietas benih padi yang ditemukan apabila tidak dikawal teknologinya, maka benih padi tersebut akan hilang dengan sendirinya. ”Sudah ratusan benih padi yang telah dirilis, tetapi di lapangan yang banyak dipakai petani kita paling bisa dihitung dengan jari,” jelas Direktur Seed Center Departemen Agronomi dan Hortikultura Faperta IPB Dr Abdul Qadir.

Atas dasar itu pulalah, lanjut dia, IPB harus membangun startup industri benih sekelas industrial yang dapat mengawasi dari mulai awal memproduksi benih hingga aplikasinya di masyarakat petani. ”Rangkaian pengawasan ini mutlak kami lakukan agar potensi produktivitas IPB 3S benar-benar tampak maksimal di lahan-lahan petani. Jadi petani senang IPB riang,” jelasnya.

Untuk membangun startup produksi benih sekelas industrial, IPB menggandeng Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) agar proses litbang dan kualitas benih yang dihasilkan akan tetap prima. Sementara untuk penyediaan benih IPB 3S baik untuk pasar pemerintah maupun pasar bebas akan langsung ditangani oleh perusahaan induk yang sudah dibentuk oleh IPB yakni PT Bogor Life Science & Technology (BLST).

Seperti diketahui bahwa Indonesia membutuhkan benih padi lebih dari 350 ribu ton setiap tahunnya untuk luas pertanaman padi seluas 7 juta ha. Sebagai produsen benih padi inbrida baru, IPB 3 S akan sangat hati-hati di dalam menyebarkan benihnya ke masyarakat. ”Memproduksi benih sama dengan mempertaruhkan kepercayaan, kredibilitas dan integritas produsennya kepada masyarakat. Karenanya, BLST harus memastikan bahwa benih yang diproduksinya benar-benar prima dan layak edar,” kata Managing Director BLST Dadang Syamsul Munir

Upaya untuk mengedukasi para penangkar telah dilakukan BLST dalam berbagai kesempatan, termasuk mengadakan pelatihan dan kunjungan ke Seed Center pada pertengahan September lalu yang melibatkan penangkar se-Indonesia.

Sumber: http://goo.gl/VdysW0

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar