Minggu, 30 Oktober 2016

Beginilah Cara Bogasari Manjakan UKM

Sejatinya, mengembangkan program kemitraan dengan UKM sudah dilakukan Bogasari sejak dulu. “Bogasari sudah lama berkecimpung dan memberi perhatian pada UKM, sejak sebelum reformasi 1998 sudah berjalan dan setelah reformasi lebih intensif lagi,” ujar Franciscus Welirang (Franky), Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk.

Sebelum populer istilah kemitraan, dulu lebih dikenal istilah “bapak dan anak angkat” dalam menjalin kerja sama. Hal ini pernah dilakukan Bogasari dalam menjalin kerja sama. Bogasari menjadi bapak angkat bagi pabrik tekstil di Majalaya, Jawa Barat, yang membuat kantong terigu Bogasari pada 1980-an.

Pada Oktober 1981 Bogasari mendirikan unit pelatihan pengolahan makanan berbasis terigu yang dalam perjalanannya dinamakan Bogasari Baking Center (BBC). Tujuan awalnya, mengedukasi masyarakat bahwa ada banyak jenis makanan yang bisa dihasilkan dari bahan dasar terigu, antara lain roti, mi, jajanan pasar atau kue basah, dan biskuit.

Kemudian, para ahli baker atau trainer di BBC pun tidak hanya mengajarkan teknik pembuatan makanan/resep, tetapi juga aspek bisnis seperti peluang usaha, simulasi modal usaha, perhitungan usaha, tip-tip dan referensi peralatan, serta perlengkapan, pemasaran, pembukuan sederhana, pengurusan legal, dan pengelolaan sumber daya manusia. “Jadi, sejak 1981 sudah ada BBC. Namun, saat itu bukan bicara soal UKM, tetapi bagaimana kami memberikan pengetahuan kepada mereka,” ujar Franky yang juga menjabat sebagai Kepala Divisi Bogasari Flour Mills. Perlu diketahui, Bogasari statusnya adalah divisi (bukan PT) yang berada di bawah Indofood.

Ternyata, animo masyarakat untuk berlatih di BBC sangat besar. Maka, BBC terus bertambah, dan sampai saat ini sudah mencapai 20 kantor cabang yang tersebar di 17 kota. BBC tersebar dari Sumatera hingga Kalimantan, antara lain di Banda Aceh, Medan, Padang, Palembang, Bandung, Cirebon, Bogor, Jakarta, Tangerang, Semarang, Kediri, Salatiga, Surabaya, Balikpapan dan Samarinda. “Pertumbuhan minat usaha tersebut juga ditandai dengan bertambahnya jumlah UKM yang menjadi pelanggan Bogasari, yang mencapai 65% dari total pelanggan Bogasari,” ujarnya.

Bagi Bogasari, UKM adalah mitranya yang penting. Selama ini banyak yang melihat UKM sebagai objek untuk melakukan corporate social responsibility (CSR). Memang, Bogasari dalam melakukan kegiatan bersama UKM ada unsur CSR-nya. “Namun buat kami, CSR itu adalah aktivitas sosial yang memberikan win-win solution. CSR itu bukan giving atau filantropi,” kata Franky. Itu sebabnya, dalam menggarap UKM Bogasari mengusung moto “Tumbuh Bersama” dan memperlakukan UKM sebagai mitra bisnisnya.

Membangun Komunitas Pedagang

Selama ini, Franky melihat masalah yang dihadapi UKM adalah mereka tidak mempunyai akses seperti ke perbankan, pengetahuan tentang berbisnis, dan berguyub (berkelompok). Pasalnya, mereka menjadi pengusaha secara autodidak, atau ada juga yang diwariskan secara turun- temurun. Mereka pun mendanai usahanya sendiri karena belum diakui perbankan. “Jadi, yang mereka butuhkan adalah jaringan dan informasi,” ujarnya menegaskan.

Nah, sejak awal tahun 2000-an, Bogasari menggarap komunitas pedagang berbasis tepung terigu untuk membentuk paguyuban, seperti pedagang roti/bakeri, mi ayam dan martabak. Anggotanya antara lain para pedagang mi ayam dari Wonogori dan pedagang martabak dari Lebaksiu, Tegal.

Kala itu Bogasari mulai menggarap komunitas pedagang di berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, Cirebon, Magelang, Yogyakarta, Solo, Madiun, Malang, Surabaya, Banjarmasin dan Pekanbaru.

Melalui paguyuban yang dibentuk tersebut, para pedagang (pengusaha UKM) bisa saling berbagi tentang bisnis, mencari solusi dari permasalahan yang mereka hadapi, serta mencari peluang bisnis ke depan. Hal itu yang difasilitasi Bogasari melalui paguyuban tersebut.

Melihat pertumbuhan dan loyalitas UKM, Bogasari pun meluncurkan program loyalitas bernama Bogasari Mitra Card (BMC) pada April 2002. Jadi, sementara BBC bertujuan melahirkan wirasausaha baru, BMC dibuat untuk meningkatkan usaha UKM sekaligus kemitraan sebagai pelanggan Bogasari. Inilah sinergi antara BBC dan BMC yang terus dijalankan Bogasari. Sampai saat ini anggota BMC terus meningkat dan sudah menembus angka 55 ribu lebih.

Begitulah upaya Bogasari dalam menggarap UKM. Tak salah kalau prinsip win-win solution dilakukannya. Sebab, UKM telah menjadi bagian dari mata rantai bisnis perusahaan yang menguasai 51%-52% pangsa pasar tepung terigu di negeri ini. Jangan heran, Bogasari pun telah menjelma menjadi penguasa pasar di industrinya.

“Pertumbuhan bisnis kami mencapai 5%-7%,” ujar Franky. Tahun lalu Bogasari memproduksi tepung terigu sebanyak 2,9 juta ton dan ditargetkan pada 2016 bisa mencapai 3 juta ton karena kapasitas produksi pabriknya sebesar 3,3 juta ton. Pabriknya ada di Tanjung Priok, Jakarta; Tanjung Perak, Surabaya; dan Cibitung, Bekasi.

Sumber: http://goo.gl/GPv57w

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar