Rabu, 17 Agustus 2016

Mobil Setan "Gentayangan" di Bogor dan Sukabumi

Apa yang ada di benak Anda saat mendengar 'mobil setan'? Ups, jangan berpikir hal menyeramkan dulu saat mendengar hal tersebut, karena tidak ada hantu di dalam mobil setan tersebut.

Mobil yang dimaksud hanyalah julukan untuk angkutan umum jurusan Bogor-Sukabumi. Bagi Anda warga asli Bogor ataupun Sukabumi mungkin tidak asing dengan istilah tersebut. Tapi bagi yang baru mendengar, tentu bertanya-tanya kenapa angkutan umum itu bisa dijuluki 'mobil setan'. 

Angkutan umum yang berjenis mobil L300 ini merupakan salah satu modal trasportasi pilihan bagi warga Bogor maupun Sukabumi. Julukan 'mobil setan' diberikan lantaran angkutan ini mampu melaju dengan kecepatan tinggi di tengah kemacetan dengan menantang maut. 

Salah satu sopir angkutan Bogor-Sukabumi, Usup (55) menuturkan, dirinya telah menggeluti profesinya sejak 2009. Istilah 'mobil setan' sendiri memang sudah melekat di masyarakat secara turun-menurun. 

"Julukan itu memang sudah ada dari dulu tapi saya kurang tahu pasti dari tahun berapanya. Alasannya, kalau naik mobil ini yang bawanya seperti setan. Tidak takut kecelakaan atau bisa dibilang menantang maut,". 

Usup menambahkan, sopir 'mobil setan' nekat memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi meski dalam keadaan macet bukan tanpa alasan. Selain untuk mengejar setoran, jika sopir mengemudikan angkutan dengan lambat, sang sopir justru dimarahi oleh penumpangnya. 

"Ada yang bilang enggak bisa bawa mobil, mobil rusaklah, pokoknya kita dimarahin. Makanya kita itu bawa mobil ngebut terus meski pas macet," tambahnya. 

Penumpang, kata Usup, ingin mengejar waktu perjalanan sejauh kira-kira 60 km. Jika macet, waktu perjalanan bisa memakan waktu lima sampai enam jam. 

Kemacetan yang terjadi biasanya disebabkan oleh pengerjaan jalan dan banyaknya angkutan berat dari pabrik-pabrik di sepanjang jalur Bogor-Sukabumi yang melintas sehingga membuat kendaraan lainnya melambat dan menyebabkan kemacetan panjang. 

"Mereka mengejar waktu, jadi kita mau enggak mau harus ngebut. Kalau kita tetap berjalan pelan, mobil kita enggak laku, besok-besok tidak ada yang mau naik lagi," terangnya.

Selain memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, yakni hingga 80 km/jam dalam kondisi macet, mobil ini juga mampu membawa penumpang hingga 17 orang termasuk sopir. Padahal, kapasitas mobil hanya mampu mengangkut sekira 12 orang saja. 

"Kalau ikutin aturan, cuma bisa angkut 12 orang saja itu udah termasuk sopir. Tapi kalau lagi banyak sewa, ya bisa 17 orang. Di depan itu yang duduk bisa sampai 4 orang soalnya sayang kalau tidak diangkut," jelasnya.

Membawa mobil dengan kecepatan tinggi tentu bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain. Tidak sedikit pengendara lainnya, terutama sepeda motor yang berpapasan dengan mobil ini kerap memakinya. 

"Seringlah namanya dikata-katain, dipecahin kaca spion saya, sampai diludahin orang. Tapi ya mau bagaimana lagi udah sehari-sehari begitu jadi kita cuek aja yang penting tidak kena dan saya nyampe ke tujuan dengan cepat biasanya yang begitu motor," ungkapnya. 

Meski demikian, rasa takut akan kecelakaan yang menimpa dirinya dan penumpang juga terpintas di pikirannya. Namun, karena mementingkan kebutuhan penumpang dan dikejar setoran, mereka sering mengesampingkan keselamatan. 

"Sebenarnya sih rasa takut pasti ada, namanya juga manusia. Tapi gimana ya? Kalau kita pelan dimarahin penumpang juga kita kan gantian bawa mobilnya. Kalau lama kasian teman kita nanti nariknya," tuturnya.

Dengan mematok tarif sekira Rp25 ribu per orangnya, Anda akan mendapatkan sensasi berkendara yang memicu adrenalin di tengah kemacetan serta melewati kontur jalan berliku dengan kecepatan tinggi. 

Namun, alangkah baiknya jika faktor keselamatan dan keamanan dalam berkendara baik terhadap penumpang maupun sopir sendiri tetap diutamakan.

Sumber: http://goo.gl/BcPYBT

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar