Rabu, 17 Agustus 2016

Menyelidiki Pohon di Kota Bogor Sebelum Tumbang

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor sedang melakukan pemeriksaan kondisi pohon-pohon di Kota Bogor untuk mengantisipasi terjadinya pohon tumbang. Menggunakan alat Sonic Tomograph, pengecekan dilakukan untuk mengetahui kondisi pohon agar bisa menentukan tindakan apa yang perlu dilakukan.

Staf pengajar di Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Lina Karlinasari, menuturkan, pengecekan kondisi pohon memang memiliki tujuan tersendiri. Menurut dia, pemeriksaan rutin terhadap kondisi pohon berpengaruh untuk menjaga keselamatan warga sekitar agar terhindar dari pohon tumbang, tetapi tetap ada pertimbangan tertentu.

"Misal dengan menggunakan alat berbasis tomograph menemukan pohon dalam kondisi buruk, bukan berarti pohon tersebut langsung dipangkas agar terhindar dari pohon tumbang," ujar Lina.

Lina menyatakan, tujuan utama dari pemeriksaan kondisi pohon merupakan tindakan konservasi. Melalui alat Sonic Tomograph, lanjut dia, bisa memprediksi kondisi pohon dari pengecekan visual oleh peneliti dan selanjutnya diproses menggunakan alat tersebut.

Meskipun menggunakan alat, Lina menuturkan, perlu melakukan pemeriksaan secara visual dengan pengamatan langsung terhadap pohon tersebut. "Mulai dari ujung, pangkal, batang, mahkotanya, dan bagian bawah meski tidak sampai ke akar perlu dicek," ujarnya menjelaskan.

Tanda-tanda seperti ada lubang di batang pohon, cacat batang, dan daun layu bisa menjadi indikator memprediksi kondisi pohon sehat atau tidak. Selain itu, lanjut Lina, peneliti juga perlu mengecek adanya jamur yang busuk menempel di batang pohon dan adanya tanah yang menempel di pohon yang menandakan adanya rayap tanah. "Kondisi tersebut bisa menjadi perkiraan untuk mengetahui apakah pohon sudah rapuh atau belum," ucapnya.

Jika tanda-tanda tersebut muncul saat pemeriksaan secara visual, biasanya dilanjutkan dengan pengecekan menggunakan alat Sonic Tomograph. Lina berpendapat tidak semua pemeriksaan pohon perlu menggunakan alat jika kondisinya tidak terlalu buruk. "Cara sederhana bisa gunakan palu, lalu diketok bagian yang berlubang atau busuk, dari suaranya bisa diketahui jelas apakah kondisi batang pohon rapuh atau tidak," kata dia.

Penggunaan alat bisa dilakukan untuk mengetahui rekomendasi yang bisa dilakukan terhadap pohon tersebut dengan menggunakan alat sensor dari alat tersebut ke bagian batang pohon, lalu bisa menghantarkan gelombang yang merambat melalui diameter pohon, maka akan dikirimkan kembali gelombang sensor bunyinya. "Hasil sensor ini akan diperiksa menggunakan komputer dengan pengolahan data. Hasilnya akan diperlihatkan dengan warna-warna tertentu yang menjelaskan kondisi pohon tersebut," ujar Lina.

Menurut Lina, warna indikator bisa bermacam-macam bergantung jenis alat yang digunakan. Biasanya, sambung dia, warna merah atau violet menandakan kondisi pohon sudah sangat tidak sehat. Meskipun begitu, pohon tidak langsung ditebang. Lina menegaskan, tetap ada upaya konservasi terlebih dahulu dengan merawat pohon dan kembali diperiksa lagi setelah tiga bulan apakah membaik, baru ditentukan untuk adanya pemangkasan pohon atau tidak.

Peneliti senior ahli tanah dan karbon Badan Litbang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Chairil Anwar Siregar, mengungkapkan, akan memberi identitas terhadap pohon yang diperiksa. "Kartu bewarna hijau jika sehat, kurang sehat warna kuning, dan tidak sehat ditempel kartu merah," ujar dia.

Chairil menjelaskan, tindakan akan dilakukan sesuai rekomendasi status kondisi pohon yang sudah diperiksa di Kota Bogor. Pada tahap pertama, kata dia, akan memeriksa sebanyak 300 pohon di jalan-jalan protokol dan area publik Kota Bogor. "Umumnya pemeriksaan satu pohon membutuhkan waktu tidak lebih dari 30 menit, tapi tergantung kondisi pohonnya juga," kata dia menjelaskan.

Sumber: http://goo.gl/j0ZLjz

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar