Jumat, 19 Agustus 2016

Jadi ‘Sarang’ Copet Hingga Aksi Kekerasan, Angkot di Bogor Makin Tak Aman!



Anda pengguna angkutan kota alias angkot? Mulai saat ini disarankan untuk melek jika naik ke angkot.

Jika tidak, barang berharga Anda akan melayang. Sebab, belakangan ini, kasus perampokan di transportasi umum massal itu marak terjadi.

Terbaru, kasus perampokan di angkot 01 jurasan Ciawi – Baranangsiang. Seorang penumpang harus kehilangan laptop dan dompet miliknya ketika dirampok empat orang sekaligus di angkot.

Kejadian ini sebenarnya bukan yang pertaman, Fandry (29) misalnya. Warga Kecamatan Tanah Sareal itu mengaku pernah menjadi korban kriminal di dalam angkot beberapa bulan lalu. Dia kehilangan satu buah telepon genggam saat didempet empat orang tak dikenal di dalam angkot.

“Mereka modusnya pura – pura menawarkan jasa pijat. Nah, orang yang disebelah kanan saya mulai memijat kaki kanan saya yang kebetulan saya simpan HP-nya di saku kanan. Tapi orang yang depan dan kiri saya coba mengalihkan pandangan saya,”.

Ternyata itu adalah bagian dari trik hipnotis mereka. Fandry yang tak mengira tak bisa berbuat banyak. Saat itu dia menggunakan angkot hendak menuju ke arah Stasiun Bogor.

“Jadi ceritanya saya mau ke Stasiun. Dua orang pertama naik duluan dari air mancur, dua orang lainnya naik setelahnya tidak lama yang pertama naik,” bebernya.

Didalam angkot, tiga orang mulai mencoba mengalihkan pandangannya, sehingga satu eksekutor yang berada di kanan Fandry mulai menggasak telepon genggam miliknya. Pelaku pun keluar dari angkot secara satu persatu, hingga akhirnya Fandry tersadar Hpnya telah raib.

Kasus pencuruan yang terjadi didalam angkot juga menjadi perhatian para sopir. Mayoritas mereka tak menampik sering terjadi kasus kriminal di dalam angkot.

Kasus kriminal yang terjadi diantaranya bermotif hipnotis, penjambretan atau perampasan maupun yang paling sering terjadi yakni pencopetan.

“Kadang memang ada saja kasus kriminal di dalam angkot, tapi paling sering sih pencopetan dan kalau penjambretan biasannya terjadi di malam hari,“ beber Wawan (35), Sopir Angkot 01.

Kasus kriminal di dalam angkot ini biasa dilakukan secara berkelompok dan hampir tidak mungkin dilakukan sendiri karena pelaku membutuhkan pengalihan dan bantuan untuk melancarkan aksinya.

“Kalau penjamberet atau pencopet pasti dilakukan minimal berdua, kadang bertiga. Karena mereka punya tugasnya masing-masing, pinternya lagi biasanya mereka juga gak mungkin naik barengan untuk kamuflase,” sambung Wawan.

Penjambret biasannya mengincar kaum wanita untuk menjadi korbannya. Faktor ini disebabkan karena wanita sangat minim melakukan perlawanan. Heru (30), salah satu supir angkot juga mengatakan hal serupa.

“Wanita biasannya jadi target utamanya selain minim perlawanan wanita juga kalau digertak lebih mudah pasrah dan kalau untuk penjabretan biasannya dilakukan malam hari di wilayah- wilayah yang sekirannya sepi, beda dengan pencopetan kalau pencopet kapanpun dapat melakukannya selagi masih ada kesempatan,” jelasnya.

Kasus kriminal didalam angkot juga disinyalir terjadi karena adanya kerjasama antara pelaku dan sopir angkot, terkadang supir angkot juga menjadi salah satu komplotan dari para pelaku.

“Kadang memang ada supir angkot yang jadi anggota mereka dan biasannya motifnya si sopir angkot ini tidak melewati jalur trayek yang semestinnya” tambah Heru.

Sumber: http://goo.gl/ogUKMU

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar