Selasa, 19 April 2016

Pro Kontra Berlakunya Sistem Satu Arah Lalu Lintas Kota Bogor

Baru-baru ini pemerintah kota Bogor menerapkan uji coba SSA atau Sistem Satu Arah, uji coba ini diberlakukan mulai tanggal 1 april hingga 18 april 2016.

Tujuan diberlakukannya SSA ini untuk mengatasi kemacetan kota Bogor yang selama ini terjadi, terutama lalu lintas disekitar Kebun Raya Bogor.

Banyak hal yang berubah dalam pemberlakuan SSA ini, mulai dari arah kendaraan tentunya, rambu rambu lalu lintas, marka jalan, hingga trayek angkot.

Atas pemberlakuan SSA ini, terjadi pro dan kontra atas perubahan ini dikalangan masyarakat pengguna jalan. Mulai dari ibu-ibu rumah tangga yang mengeluhkan bengkaknya ongkosnya ketika mau pergi ke pasar sampai dengan para sopir Angkutan Kota (angkot) yang tidak merasa nyaman atas perubahan ini.

Telah terjadi aksi unjuk rasa para sopir angkot dengan pemberlakuan SSA yang dilakukan. Unjuk rasa itu diikuti oleh angkot nomor 02, 03, 07, 11, 15 dan lain-lain. Unjuk rasa yang dilakukan para angkutan kota ini dipicu terjadinya persaingan penumpang antar angkot.

Pasca diberlakukannya SSA, seluruh angkutan harus mengitari Kebun Raya Bogor dan Istana Presiden. Banyak angkot dengan berbeda trayek harus melalui jalan yang sama. Sehingga, dari sebelumnya penumpang dua atau tiga kali angkot untuk ke tengah kota. Tetapi ketika SSA berlaku, penumpang cukup satu kali naik angkot saja. Tentu saja hal ini berdampak banyak trayek angkot tidak kebagian penumpang.

Mereka meminta SSA tidak jadi diberlakukan karena menambah jauh rute para sopir tersebut yang artinya waktu dan biaya bensin lebih besar sementara tarif angkot tidak dinaikkan.

Namun disisi lain para pengguna angkot juga resah, Suparman warga desa Gunung Batu menuturkan bahwa pada dasarnya dia dan sebagian besar warga Bogor setuju SSA diberlakukan tapi jangan membuat ongkos angkutan naik.

“Kami penumpang (pengguna) angkot dan juga sebagai warga kota setuju saja satu arah dilakukan, tapi karena jarak tempuh angkot makin jauh takutnya ongkos naik,” ujar Suparman.

Disisi yang lain, Sistem Satu Arah ini menambah masalah disekitar pinggiran kota Bogor, seperti daerah Gunung Batu, Ciomas dan Empang. Di wilayah-wilayah tersebut malah terjadi kemacetan yang luar biasa. Jadi dengan kata lain SSA memindahkan kemacetan di sekitar Kebun Raya Bogor ke beberapa wilayah di sekitarnya.

Sementara itu volume kendaraan di jalan Pajajaran yang mengitari Kebun Raya Bogor bertambah hampir tiga kali lipat. Ini karena kendaraan dari tol Jagorawi yang menuju Warung Jambu dan sebaliknya, kendaraan dari jalan Kapten Muslihat menuju jalan Surya Kencana , dan kendaraan dari jalan Jendral Sudirman ke jalan Kapten Muslihat dan sebaliknya sekarang harus mengitari Kebun Raya Bogor yang pada awalnya tidak perlu.

Hal ini yang memerlukan perhatian khusus Pemda Bogor terutama Dinas Perhubungan kota Bogor agar perubahan ini memberikan banyak dampak positif dibanding negatifnya.

Sumber: http://goo.gl/YaRFQy

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar