Senin, 18 April 2016

Bogor Satu Arah Demi Pakde yang Kangen Solo

Kemarin malam ketika saya pulang sedikit kaget menemukan bahwa mobil-mobil dan angkot sudah bergerak melawan arah, dan ternyata hari itu resmi diberlakukan satu arah dalam Kota Bogor.

Artinya, jalur yang berada di sekitar istana Bogor akan berjalan dalam satu arah, awalnya saya pikir perubahan ini sebuah kemajuan untuk mengurai kemacetan. Namun, esok harinya, saya baru sadar kalau kebijakan ini justru memperparah kemacetan di Kota Bogor.

Esok hari sekitar pukul 10.00 ketika akan berangkat, saya dikagetkan dengan sebuah penampakan mengejutkan di komplek saya, yakni kompleks IPB Pakuan Bogor.

Sebab pagi-pagi jalan di depan kompleks kendaraan sudah tidak bergerak sama sekali, padahal biasanya kosong melompong, bahkan harus menunggu sampai 10 menitan sampai ada angkot yang melintas, tapi ini parah banget! Ratusan mobil berjajar tak bergerak dari depan komplek sampai ke jalan besar yakni sepanjang 1km ke depan.

Ternyata kebijakan satu arah ini, hanya positif di jalur utama menuju istana Bogor, sementara efek negatif dari kebijakan satu jalur ini fatal! Bagi jalan-jalan di sekitaran jalan utama menuju istana Bogor.

Kebijakan yang mendadak ini, sepertinya tidak dipikirkan efeknya matang-matang, seperti jika kemacetan justru malah akan menumpuk, di jalan-jalan kecil menuju jalan utama istana Bogor. Selain itu latar belakang apa? Sehingga pemerintah kota Bogor tiba-tiba memberlakukan kebijakan ini.

Setelah saya tanyakan pada teman-teman dan warga sekitar, konon kebijakan ini akibat Pak' De yang kangen dengan kampung halamannya, yakni kota Solo. Maklum Bogor yang lumayan masih adem dan penuh pohon mirip Solo, bahkan Pak' De ini sudah beberapa kali terlihat mengikuti car free day di Bogor, artinya saban weekend dia balik ke Bogor.

Padahal  Pak' De yang terdahulu tak pernah ada masalah dengan hal ini? Kenapa yang satu ini tidak suka dengan rute yang lama? Mungkin karena supaya cepat sampai ke istana Bogor dan bisa menikmati ademnya Bogor, tanpa harus berurusan dengan angkot-angkot yang sudah menjadi trademark kota Bogor.

Tapi ada kabar baik, katanya sih kebijakan satu arah ini hanyalah uji coba, kalau terbukti tidak efesien dan mengganggu maka akan diberhentikan, bahkan tersedia sebuah call center untuk melaporan efek samping yang terjadi akibat kebijakan untuk menyenangkan hati Pak' De yang rindu akan kampung halaman. Kalau begitu kenapa Pak' De tidak tinggal di Solo saja?

Sumber: http://goo.gl/m1xmLJ

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar