Jumat, 04 Maret 2016

Supeltas Kocak Kota Bogor Bakal Kehilangan Penghasilan





Mahpud (44), menumpang duduk di jok becak yang mangkal di Jalan Salak, Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis (3/3/2016) siang.Wajah dan baju seragam sukarelawan pembantu lalu lintas atau supeltas yang selalu dikenakannya basah oleh keringat.

Keberadaan Mahpud yang kerap bertugas di simpang Hotel Salak, Jalan Djuanda, Kota Bogor, selalu mengundang perhatian pengendara yang melintas.

Gayanya yang unik saat mengatur lalu lintas kerap membuat pengendara terhibur. Aksinya mengatur lalu lintas membuatnya dikenal banyak orang.

Sejak 2007 lalu, bapak empat anak ini menjadikan simpang Kejaksaan Negeri Bogor tidak jauh dari Hotel Salak sebagai tempat bertugas sekaligus mencari penghasilan.

Kini, warga Desa Cijujung, Desa Sukaraja, Kabupaten Bogor, sedang resah atas rencana pemberlakuan sistem satu arah yang diberlakukan Pemerintah Kota Bogor.

"Tahun ini saya lagi butuh uang sekali buat keperluan empat anak saya," kata Mahpud saat berbincang.

Sepanjang 1995 sampai 2000, Mahpud bekerja di Jalan Soleh Iskandar. Kemudian ia pindah ke simpang Kampus IPB Jalan Pajajaran sampai 2003. "Dapat usulan dari teman-teman untuk pindah ke jalan ini, sekitar tahun 2007," kata dia.

Jika sistem satu arah diberlakukan, maka Mahpud tidak bisa lagi mengatur lalu lintas dan menerima uang dari pengemudi yang melintasi Jalan Gedong Sawah menuju Jalan Ir H Juanda.

Mahpud menjadi sukarelawan pembantu lalu lintas di persimpangan Jalan Djuanda, Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis (3/3/2016). Ia terancam kehilangan pekerjaannya karena di jalan tempat ia bekerja akan diberlakukan sistem satu arah. ARDHI SANJAYA

"Saya mau kemana? Saya harus merintis lagi dari awal kalau pindah ke simpang lain," keluh dia.

Setiap harinya, Mahpud menjaga di simpang mulai pukul 08.00 WIB hingga tengah hari. "Rp 100 ribu minimal, bisa kurang bisa lebih. Sedangkan istri jual gorengan di rumah," kata dia.

Mahpud memiliki empat orang anak, yang paling pertama duduk di bangku kelas SMK kelas 3, kedua kelas 1 SMK.

"Ini dua-duanya lagi perlu uang, terus yang kelas enam sekolah dasar mau naik ke sekolah menengah pertama. Kelas empat juga bentar lagi kan ada kenaikan," kata dia.

Mahpud merupakan satu di antara banyak orang yang tidak setuju pemberlakuan rencana pemberlakukan sistem satu arah karena ladang pekerjaannya terancam.

"Belikan saya ruko saja buat usaha, tapi kalau saya dibutuhkan di jalan, saya pasti siap," ujar dia.

Sumber: tribunnews http://goo.gl/Sddkvu

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar