Selasa, 01 Maret 2016

Riscon Realty Group Bangun Kawasan Mandiri Di Bogor





Riscon Realty Group tengah menggarap kawasan kota mandiri yang bernama The Riscon Padjajaran City di Cimanggis, Bogor.

Direktur Marketing Riscon Realty Aviv Mustaghfirin mengatakan dalam pembangunan The Riscon perusahaan mendapat tawaran dari pemerintah daerah (Pemda) Bogor sebagai penyedia sarana ibadah atau masjid dan sarana olahraga atau gor.

"Sebenarnya Pemda sudah lama ingin membangun tetapi belum mendapat lahan yang tepat, jadi rencananya akan menggunakan lahan The Riscon Padjajaran City," katanya saat dihubungi , Selasa (23/2).

Aviv menambahkan The Riscon akan berdiri di atas lahan seluas 42 ha dengan perencanaan 11 tower apartemen dengan area komersial, perumahan serta berbagai fasilitas yang menunjang konsumen. Saat ini The Riscon baru memiliki 1.200 unit perumahan di atas lahan 3 ha.

Rumah dengan tipe 30/72 (luas bangunan/luas tanah) tersebut dijual mulai dari Rp200 juta. Kawasan ini akan menawarkan berbagai kemudahan akses yakni tidak jauh dari Stasiun Bojong Gede, Ringroad Tegar Beriman serta nantinya akan dilalui tol Antasari-Depok yang sedang dalam pembangunan.

Mega proyek Riscon Group ini akan dibangun secara bertahap dan diperkirakan rampung pada 2020.
Sedangkan pembangunan dari Pemda direncanakan akan dimulai pada 2017.

"Kami juga berencana membentuk manajemen estate untuk pengelolaan aset dan keseluruhannya, nilai investasinya masih diperhitungkan" ujar Aviv.

Sementara itu, The Riscon juga sedang menantikan perizinan untuk pembangunan proyek apartemen pertama di Ciluar, Bogor.

Apartemen satu tower tersebut akan berdiri di atas lahan 600 m2 dan terdiri dari 12 lantai.

Apartemen yang akan dijual mulai harga Rp190 juta ini menyasar para karyawan daerah Bogor yang belum mampu membeli rumah.

"Jika perijinan selesai tepat waktu kuartal dua ini kami sudah mulai memasarkan, nilai investasi apartemen tersebut kurang lebih Rp50 miliar," katanya.

Aviv menambahkan tahun ini pihaknya menargetkan pendapatan penjualan sebesar Rp400 miliar.

Meski mengaku akan tetap fokus menjadi pengembang rumah murah, pihaknya menyayangkan kebijakan pemerintah tentang batasan harga rumah subsidi.

Menurut Aviv kenaikan yang terjadi tahun ini dari Rp127 menjadi Rp133 tidak sesuai dengan ketentuan yakni 5% hingga 6%.

Dia berharap ada rumusan yang sesuai agar tidak ada yang dirugikan dalam proyek rumah subsidi.

Meski demikian, Aviv tetap optimis dengan tren penurunan suku bunga akan sangat memengaruhi penjualan tahun ini.

"Dalam hal ini Bank BTN sebaiknya menjadi pelopor untuk bunga kredit KPR yang rendah, Pak Wakil Presiden juga sudah mengimbau BTN nantinya agar fokus menjadi spesialis perumahan, portofolio kami juga banyak di sana."

Sumber: properti.bisnis http://goo.gl/05jJ6H

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar