Senin, 14 Maret 2016

Komunitas Mural dan Grafiti Bogor Boikot Taman Corat Coret

Komunitas grafiti dan mural di Kota Bogor memboikot Taman Corat-coret sebagai bentuk protes karena media untuk mereka berkarya, dibatasi oleh Pemerintah Kota Bogor.

Salah satu komunitas grafiti yang memboikot Taman Corat-coret itu adalah Komunitas Graffiti Matakiri Art Clolektive.

Anggota Komunitas Graffiti Matakiri Art Cloletive Reksa Nasution mengaku tindakan tersebut sebagai bentuk kekecewaan terhadap Pemkot Bogor yang membatasi kebebasan berekspresi para pecinta grafiti dan mural.

"Padahal kami sudah mengikuti semua aturan yang diberlakukan pemerintah daerah," kata mahasiswa semester 4 Jurusan Komunikasi di Universitas Pakuan Bogor.

Awal mulanya, kata dia, ada aduan dari sejumlah warga sekitar kepada Pemkot Bogor, karena beberapa gambar hasil karya anak remaja itu tidak pantas terpampang di dinding taman yang belum lama diresmikan oleh Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto.

Warga menganggap gambar-gambar mereka berbau porno dan tidak bermoral.

"Padahal lukisan wanita sedang ditelanjangi itu memiliki pesan moral, di mana wanita sekarang ditelanjangi oleh pergaulan modern yang semakin parah. Begitu juga gambar tengkorak, memiliki makna dan pesan moral. Bukan tidak bermoral," ucap dia.

Reksa menjelaskan, seharusnya pemerintah daerah bisa menjelaskan kepada warga jika gambar-gambar yang menghiasi dinding Taman Corat-coret di Simpang Pandu Raya itu memiliki pesan moral dan kritik.

"Bukan setelah menerima aduan lantas menghapus semuanya. Buat apa menyediakan Taman Corat-coret kalau kebebasan berekspresi masih saja dibatasi," kata Reksa.

Terkait adanya hal ini, kata Reksa, beberapa komunitas mural dan grafiti sepakat memboikot Taman Corat-coret. "Kalau dibatasi, buat apa menggambar di Taman Corat-coret. Lebih baik kami cari lokasi lain," ujar dia.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bogor mengaku belum menerima laporan terkait adanya aksi boikot dari para komunitas mural maupun grafiti.

"Belum dapat info kalau dinding sudah dihapus sama petugas kami," kata dia.

Namun pihaknya membantah telah membatasi kebebasan berekspresi para komunitas tersebut. "Silakan, kami tidak membatasi ruang gerak mereka. Kan dibangun taman itu emang buat corat-coret," ujar dia.

Sebagai bentuk kekecewaan, komunitas meninggalkan sebuah pesan di sebuah dinding, yang berisi:

"Maaf jika karya kami tak beretika, tak bermoXral, tak sopan, tak indah, dan tak bagus -Menurut Anda-, kami janji tidak berseni lagi disini..!!! Salam kami. Make art not war"

Sejak ditinggalkan para komunitas mural dan grafiti, kondisi Taman Corat-coret dalam 3 hari terakhir ini nampak sepi dan kumuh.

Biasanya, hampir setiap hari taman yang dibangun senilai Rp 430 juta itu kerap dijadikan tempat berkumpulnya kaum muda dari sejumlah komunitas mural dan grafiti.

Bahkan ramai pengunjung yang hanya sekedar nongkrong maupun selfie di depan gambar atau tulisan hasil karya seniman asal Bogor itu.

Sumber: http://goo.gl/x6ocN4

Reactions:

1 komentar:

  1. bang gua mau belajar nggambar, ada tempat pembelajaran nya gak?

    BalasHapus