Selasa, 08 Maret 2016

Jelang Satu Arah, Kemacetan di Bogor Dikhawatirkan Hanya Berpindah Lokasi

Menjelang program pemberlakuan Sistem Satu Arah (SSA) yang akan diterapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor pada Jumat (1/4) nanti, beragam tanggapan muncul dari berbagai kalangan, mulai dari sopir angkot, masyarakat, hingga anggota DPRD.

Umumnya mereka ragu, SSA mampu mengurai kemacetan di Kota Bogor terutama di seputar Kebun Raya Bogor (KRB).

“Kalau memang bisa mempersingkat waktu tempuh itu bagus, tapi kalau hanya memindahkan kemacetan untuk apa diberlakukan,” kata Dodo (35) sopir angkutan kota (Angkot) 07 rute Warung Jambu–Merdeka pada SP Jumat (4/3).

Angkotnya termasuk dalam trayek yang berubah rute dari semula melintasi kawasan Ahmad Yani, Air Mancur menuju Merdeka, nanti dengan SSA setelah Air Mancur akan dibelokkan menuju Jalan RE Martadinata.

“Di Jalan RE Martadinata kan sekarang saja sudah macet parah akibat banyaknya kereta yang lewat di perlintasan Pondok Runput. Kalau angkot diarahkan ke sana, ya makin macet karena bakal ada 4 trayek angkot lewat jalur itu,” jelasnya.

Selain angkotnya, angkot 12, 07 (Ciparigi), 22 juga akan melintasi jalur itu. Menurutnya, banyak sopir yang belum mengetahui jelas detil perubahan rute angkot. “Masih banyak yang bingung, kita lihat saja nanti,” ujarnya.

Selain angkot 07 (Warung Jambu), ada 12 angkot lagi yang mengalami perubahan yakni angkot 01, 02, 03, 05, 06, 07(Ciparigi), 08, 09, 10, 11, 21 dan 23. Kepala Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ) Kota Bogor Achsin Prasetyo mengatakan diberlakukannya SSA akan berdampak pada perubahan rute angkot.

“Ada perubahan pada 13 rute angkot. Kami terus mempersiapkan infrastruktur seperti pemasangan rambu dan halte juga sosialisasi pada masyarakat. Perubahan ini juga telah disetujui oleh DPC Organda Kota Bogor dan Kelompok Kerja Sub Unit (KKSU),” katanya.

DPRD Komisi C Kota Bogor yang membidangi masalah transportasi menghargai ide SSA. Namun mereka mempertanyakan efektivitas program itu. “Pemkot harusnya melakukan ekspose terlebih dahulu dan mendengarkan masukan dari DPRD.

Kami khawatir ke depan ini hanya memindahkan kemacetan lalu lintas dari seputar KRB ke lokasi baru,” ujar anggota DPRD Komisi C, Yus Ruswandi.

Menurutnya, banyak yang harus dibenahi oleh Pemkot Bogor dengan pemberlakuan SSA ini seperti penataan PKL, jalur-jalur alternatif seperti Jalan Pengadilan, Jalan Sawo jajar, Jalan Dewi Sartika dan jalan lainnya yang terkena imbas dari penerapan SSA.

Selama ini diseputaran KRB setiap hari Sabtu dan Minggu selalu macet parah. Hal ini terlihat di Jalan Otista dan depan BTM. Begitu pun di sekitar Stasiun Bogor selalu macet parah setiap akhir pekan.

Ditambahkan Yus, jika penerapan sistem ini hanya ingin memudahkan jalur Presiden RI Joko Widodo keluar masuk Istana Bogor, dia yakin presiden juga tidak akan setuju akan hal ini.

 Dia minta Pemkot segera menjelaskannya pada DPRD. “Kalau persoalannya hanya sampai di situ, saya yakin presiden juga tidak akan setuju,” katanya.

Banyak warga yang juga belum paham rencana perubahan rute angkot akibat program SSA yang menelan biaya Rp 33 miliar ini.

Hasnah (54), warga yang tinggal di kawasan Warung Jambu mengatakan, kalau rute angkot berubah maka sulit bagi warga yang akan menuju Pasar Anyar.

“Kami jadi bingung kalau ke pasar nanti naik apa, katanya nanti enggak bisa langsung lagi, harus memutar. Kami masih belum paham,” katanya.

Sumber: http://goo.gl/jZGUzP

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar