Sabtu, 13 Februari 2016

Seribu Pekerja di Bogor Mulai Kena PHK. Ini list perusahaannya





Gelombang PHK massal kini telah menyentuh bumi tegar beriman (Kab Bogor). Tak ayal, kondisi ini membuat angka pengangguran kian membengkak. Di Kota Bogor saja, kini tercatat 1.005 warga dipastikan kehilangan pekerjaannya.

Data Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Bogor menyebutkan, mengawali tahun 2016, PT Idola Sakti Jaya dinyatakan tutup. Perusahaan yang bergerak di bidang keramik itu terpaksa merumahkan 200 karyawannya.

“Saya mendapatkan informasi langsung dari serikat pekerja, kemungkinan meski perusahaan itu tutup, bakal ada investor baru yang akan masuk,” ujar Kabid Pengawas Ketenagakerjaan pada Dinsosnakertrans Kabupaten Bogor, Zaki Budiman kepada Radar Bogor.

Meski sudah tutup, pihaknya belum menerima laporan resmi dari perusahaan yang berbisnis di kawasan Kelapanunggal, Kecamatan Kelapanunggal,  Kabupaten Bogor itu.

“Tetapi kita belum menerima laporan resmi. Padahal perusahaan berkewajiban melapor,” tukasnya.

Dia mengaku kesulitan mengambil data perusahaan yang terancam tutup dan hampir gulung tikar, lantaran banyak perusahaan yang enggan melapor. Namun berdasarkan data tahun 2015, sudah ada 20 perusahaan yang dinyatakan tidak beroperasi lagi alias bangkrut.

“Kami memang sedang mencari terus perusahaan yang menyatakan untuk tutup. Hal ini penting untuk mengetahui warga kita yang kehilangan pekerjaan,” ungkapnya.

Sejatinya gelombang PHK massal sudah menjadi tren tahunan di bumi tegar beriman sejak tahun 2013 lalu. Kala itu jumlah tenaga yang dirumahkan  mencapai 658 orang. Jumlah itu sedikit menurun pada tahun 2014. Di mana hanya 429 tenaga kerja di PHK.

Meski jumlah PHK menurun, jumlah perusahaan yang tutup justru membengkak. Jika pada tahun 2013 hanya  ada enam perusahaan yang tutup, justru di tahun 2014 jumlah perusahaan yang tutup naik menjadi sepuluh perusahaan.

Kondisi hampir sama terjadi pada tahun 2015. Di mana ada beberapa perusahaan yang memutuskan hengkang dari Kabupaten Bogor.

“Ada tiga perusahaan yang pindah di tahun 2015,” ucapnya.

Sementara, sejak 2015 jumlah tenaga kerja yang di rumahkan di Kota Bogor mencapai 1.005 orang. Namun angka ini dapat tertutupi dengan diterimanya 1.869 pekerja baru.

Kepala Dinsosnakertrans Kota Bogor, Anas S Rasmana menjelaskan ingin meluruskan beberapa hal terkait gelombang PHK massal yang mulai terjadi tahun 2016 di Kota Bogor. Di mana pada periode Januri-Februari 2016, hanya 285 tenaga kerja yang dirumahkan bukan 550 orang.

“Ini masih belum bisa dikatakan sebagai PHK Masal karena jumlahnya tidak terlalu banyak, jika dibandingkan dengan jumlah perusahaan di Kota Bogor,” ujar Anas.

Menurut dia Kota Bogor bukan kawasan industri. Sejak tahun 1986 sudah tidak ada perusahaan industri yang menanam investasinya di Kota Bogor.

Memang sejak tahun 2015 sudah ada tiga perusahaan yang mengajukan surat ke pihaknya untuk menyatakan berhenti produksi.

Yakni PT Goodray Indonesia yang berlokasi di Kecamatan Bogor Timur dengan bidang produksi Produk Usaha  Storage Systeem, PT Top Oli Pratama di Kecamatan Bogor Timur dengan bidang produk Produk Usaha Oli, dan PT PT Popindo, Mulya Utama, di Jalan Padjajaran, Kecamatan Bogor Utara, dengan bidang usaha Developer dan Real Estate.

“Ketiga perusahaan tersebut sudah memberikan surat pernyataan untuk menutup produksinya di Kota Bogor, dan saat ini ketiganya sudah tidak berproduksi,” ungkap Anas.

Dia mengaku nama perusahaan yang berhenti produksi PT Popindo Mulya Utama, memiliki kemiripan nama dengan PT Propindo Mulia Utama yang beralamat di Dewi Sartika yang kini masih aktif berproduksi.

“Jadi bukan Propindo Mulia Utama yang berhenti produksi. Kabid saya yang salah menginformasikan,” bebernya.

Penjelasan Anas ini lantaran pihak PT Propindo Mulia Utama tidak terima dinyatakan bangkrut oleh Dinsosnakertrans Kota Bogor.

Kepada Radar Bogor Direktur Operasional PT Propindo Mulia Utama, Riyadi Slamet mengatakan pihaknya tidak pernah mengajukan surat untuk menutup usaha, bahkan perusahaannya sedang dalam taham perkembangan.

“Perusahaan kami tidak pailit seperti yang diberitakan sebelumnya, bahkan saat ini perusahaan kami semakin berkembang,” tukasnya.

Berita sebelumnya, Kabid Hubungan Industrial dan Pengawasan pada Dinsosnakertrans Kota Bogor Krisna Sudiarto menuturkan ada tiga perusahaan yang mengajukan pailit (bangkrut) pada 2015

“Ketiganya yakni, PT Goodray Indonesia, PT Propindo Muly Utama, dan PT Top Oli Pratama yang sudah resmi melapor,” ucapnya.

Sumber: Pojoksatu http://bit.ly/1odu7EY

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar